Kecerdasan Yang Memberkati
Apa guna kecerdasan kalau hanya untuk diri sendiri? Fandy Tjiptono, Jonathan Prawira, dan Thomas Budi Pranantya, tiga dari sekian juta orang cerdas di bidangnya. Mereka mendedikasikan kepandaiannya demi kemuliaan Tuhan. Ruangan kerja Fandy Tjiptono, SE., M.Com di lantai II Fakultas Ekonomi, Gedung Bonaventura Universitas Atma Jaya Yogyakarta kecil saja, tidak lebih dari 3 x 3 meter. Hanya ada satu meja dan sebuah kursi. “Semoga jawaban-jawaban saya bisa memuliakan Tuhan,” ujarnya sembari tertawa. Secara akademik Fandy cerdas. Ia lulus tercepat, 3 tahun 8 bulan dari Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada Yogyakarta pada November 1994. Indeks prestasinya tertinggi kedua se-universitas, 3,70. Setelah lulus ia menjadi dosen di sebuah PTS di Yogyakarta sebelum studi lanjut ke Universitas New South Wales, Sidney, Australia dengan spesialisasi pemasaran. Hanya dalam waktu satu tahun (1998-1999) studi S2 itu rampung. Tahun 2003 Fandy menempuh studi doktoral di universitas yang sama. “Kalau Tuhan berkenan, dua-tiga bulan ke depan semoga selesailah. Sudah terlalu lama saya kuliah,” tukas Fandy.
KELANGGENGAN MERK
Untuk tesis doktoralnya Fandy meneliti perihal kelanggengan merk, ia melakukan studi sejarah terhadap ratusan bahkan ribuan merk yang pernah hidup di Indonesia dalam kurun waktu 100 tahun terakhir. Tetapi mengapa soal kelanggengan merk? Fandy terusik oleh kenyataan banyaknya merk terkenal yang susahpayah dibesarkan, namun dijual kepada negara asing. Kecap Bango dibeli Unilever. Rokok Sampoerna begitu besar dibeli Philip Morris. Sekarang beberapa BUMN dijual kepada pihak luar. “Kita senang menjual tetapi tidak suka memelihara. Orang bangga sekali karena nilai transaksinya triliunan rupiah, tetapi tidak sadar kalau ( merk tersebut) sudah milik asing.” Bagi Fandy, merk adalah identitas. Dan identitas sama dengan jati diri. Menjual merk berarti menjual jati diri. “Setangkai mawar tetap dikenal orang sebagai mawar meski diberi seribu nama berbeda,” kata Fandy beranalogi. Sementara bangsa-bangsa lain menjaga merk-nya supaya tidak jatuh ke tangan orang lain atau pihak asing, Indonesia justru berbangga. Karena apa pun alasannya, menurut Fandy, begitu berpindah tangan, merk itu bukan milik kita lagi. Kecap Bango telah menjadi milik Uniliver, Sampoerna dibeli Philip Morris. Indosat dijual ke Temasek. Begitu Temasek untung dua kali lipat, dilegonya ke Qatar. Beberapa BUMN pun bernasib sama. “Bagi saya itu sudah menjadi merk nasional yang semu. Ada merk lokal yang asli Indonesia dan masih dimiliki orang Indonesia, tetapi ada juga yang semula dikembangkan orang Indonesia, sekarang sudah dimiliki asing. BUMN diprivatisasi, pemerintah dapat uang tetapi pemiliknya asing semua, lalu so what? Jangan-jangan kita ini bagus membangun merk, setelah bagus lalu dijual. Kesadaran orang ke arah merk itu belum sampai,” jelas Fandy.
TIDAK ADA DOKUMENTASI
Tetapi lelaki yang lahir di Tarakan Kalimantan Timur tahun 1972 itu segera tahu ia sedang “bunuh diri”. Pikirnya, data-data tentang merk akan gampang ia peroleh di instansi-instansi terkait di Jakarta. Bagaimana menulis disertasi dengan data-data yang minim, yang untuk mendapatkannya saja ibarat mencari jarum dalam jerami? Direktorat Pencatatan Merk, Balai POM, Departemen Hukum dan HAM tidak memiliki dokumentasi yang memadai. “Kalau data di atas tahun 1990-an ada, tetapi di bawah itu sudah dimusnahkan,” kata seseorang kepada Fandy. Ola..la...! Maka Fandy bolak-balik Sidney- Canberra-Jakarta. Lembaga-lembaga asing ia datangi. Fandy juga berburu koran-koran kuno. Ketemulah Sinar Djawa, Sinar Hindia, Matahari Indonesia dan Shimpo, yang terbit tahun 1914. Ada pula yang berbentuk micro film. Perpustakaan Nasional di Jakarta memberinya hak meng-copy ukubuku kuno tentang iklan. “Susahnya minta ampun. Kalau ketlingsut saja tidak jadi soal. Tetapi datanya tidak ada, bahkan sudah dimusnahkan,” kata Fandy tertawa. Untuk cross-check ia mendatangi Departemen Hukum dan HAM minta registrasi yang paling baru. Misalnya antara tahun 1950-1969, Fandy memiliki daftar untuk 6 kategori; rokok, kopi, teh, sampo, pasta gigi dan kecap. Ada sekitar 20 ribu merk dibaca Fandy, satu per satu, untuk melihat apakah ada duplikasi atau tidak. “Ada rokok yang merknya ‘Setan Gundul’ diproduksi tahun 1960-an. Saya telusuri pemiliknya, berapa persen yang masih hidup, berapa persen yang meninggal. Saya menganalisa juga faktor- faktor yang berkaitan,” jelas Fandy. Akhirnya Fandy menyimpulkan, dari 6 kategori yang ia teliti, rata-rata daya bertahan hidupnya sekitar 10%. Ini angka yang cukup besar karena 10% dari sekian ribu merk yang ada.
YANG PERTAMA
Fandy orang pertama di Indonesia yang meneliti tentang merk secara komprehensif. Tetapi ia membantahnya. Ia berharap data-data yang telah terkumpul dapat didokumentasikan dengan baik. “Dalam ilmu sosial seperti ini there´s nothing new under the sun. Tidak ada yang benar-benar baru di kolong langit ini,” ujarnya merendah. Tetapi diakui atau tidak, Fandy Tjiptono telah menyumbang sebuah karya yang sangat berarti bagi Indonesia.
© 2002-2008 bahana-magazine.com
Saturday, September 13, 2008
CHATERINE PONDER: SUKSES ALA ALKITAB
“Berhentilah memikirkan kemiskinan sebagai kebajikan. Tindakan itu merupakan keburukan yang umum terjadi. Pada dasarnya ada satu masalah dalam hidup: kepenuhan. Pada dasarnya ada satu solusi: sirkulasi. Karena itu, pemberian yang sistematis adalah praktik sangat kuat yang mensyukuri setiap tahap dalam hidup kita, karena membuat kita tetap menyelaraskan diri dengan kekayaan alam semesta.”
Ungkapan yang terkenal itu diucapkan oleh Catherine Ponder, salah seorang pendeta wanita yang banyak mempelajari masalah rahasia kesuksesan hidup menurut Alkitab. Penulis lebih dari selusin buku ini—di antaranya The Prosperity Secrets of the Ages, The Dynamic Laws of Healing, The Millionaires of Genesis, The Millionaire Joshua, dan The Prospering Power of Prayer—memang selalu tertarik pada hubungan antara kerohanian dan kesuksesan seseorang. Saat melayani sebagai pendeta di Unity Church, dia memutuskan untuk mempelajari Alkitab, khususnya dalam hal kemakmuran, secara lebih saksama.
Wanita yang lahir pada tahun 1927 ini belajar pendidikan dan bisnis di North Carolina sebelum memutuskan untuk menjadi pendeta pada tahun 1958. Sejak itu dia melayani di berbagai tempat di belahan bumi Amerika antara lain di Birmingham, Alabama, Austin, Texas dan San Antonio. Pada tahun 1973 dia pindah ke Palm Desert, Kalifornia sampai masa tuanya.
Sejak masa kecilnya Catherina telah diajar untuk berpikir bahwa “orang Kristen yang miskin adalah orang Kristen yang baik”. Namun, setelah dia mempelajari Alkitab, dia tidak menemukan kebenaran itu. Semakin dalam dia mempelajari Alkitab, dia semakin yakin bahwa Allah ingin memberkati kita secara berlimpah.
Ketika Amerika dilanda resesi, jemaat yang dia pimpin memintanya untuk memberikan panduan untuk hidup melewati krisis. Catherine mulai mengajarkan bahwa pikiran seseorang akan menentukan jalan hidupnya. Jemaatnya mengalami pembaruan sekaligus terobosan. Banyak di antara mereka yang mendapatkan kenaikan penghasilan yang menakjubkan, promosi jabatan dan hutan-hutang yang terbayar lunas. Dia menjawab pertanyaan jemaat “apakah mencari kemakmuran itu perbuatan yang benar?”
Mereka mendasarkan pertanyaan itu dari Alkitab juga. Bukankah Alkitab berkata, “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Matius 6:24) dan “Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus menyambung lagi: “Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Markus 10:24).
Tantangan jemaatnya itulah yang membuatnya ingin membuktikan bahwa Allah menginginkan kita kaya. Yang salah bukan kekayaannya itu tetapi cara penggunaan yang tidak tepat. Menurutnya, tidaklah masalah kita menjadi kaya asal cara mencari dan memakainya tetap sesuai Firman Tuhan. Dia pun mengajarkan jemaat untuk memakai uangnya dengan bijak.
Catherine Ponder meyakinkan kita bahwa asal kita tahu bahwa sumber kekayaan itu datangnya dari Tuhan, dan harus dipakai untuk kemuliaan-Nya, maka justru seharusnya kita belajar untuk mencari kekayaan. Anak muda kaya yang disuruh Yesus menjual seluruh hartanya itu karena dia masih terikat dengan kekayaannya dan tidak memprioritaskan Tuhan.
Ungkapan yang terkenal itu diucapkan oleh Catherine Ponder, salah seorang pendeta wanita yang banyak mempelajari masalah rahasia kesuksesan hidup menurut Alkitab. Penulis lebih dari selusin buku ini—di antaranya The Prosperity Secrets of the Ages, The Dynamic Laws of Healing, The Millionaires of Genesis, The Millionaire Joshua, dan The Prospering Power of Prayer—memang selalu tertarik pada hubungan antara kerohanian dan kesuksesan seseorang. Saat melayani sebagai pendeta di Unity Church, dia memutuskan untuk mempelajari Alkitab, khususnya dalam hal kemakmuran, secara lebih saksama.
Wanita yang lahir pada tahun 1927 ini belajar pendidikan dan bisnis di North Carolina sebelum memutuskan untuk menjadi pendeta pada tahun 1958. Sejak itu dia melayani di berbagai tempat di belahan bumi Amerika antara lain di Birmingham, Alabama, Austin, Texas dan San Antonio. Pada tahun 1973 dia pindah ke Palm Desert, Kalifornia sampai masa tuanya.
Sejak masa kecilnya Catherina telah diajar untuk berpikir bahwa “orang Kristen yang miskin adalah orang Kristen yang baik”. Namun, setelah dia mempelajari Alkitab, dia tidak menemukan kebenaran itu. Semakin dalam dia mempelajari Alkitab, dia semakin yakin bahwa Allah ingin memberkati kita secara berlimpah.
Ketika Amerika dilanda resesi, jemaat yang dia pimpin memintanya untuk memberikan panduan untuk hidup melewati krisis. Catherine mulai mengajarkan bahwa pikiran seseorang akan menentukan jalan hidupnya. Jemaatnya mengalami pembaruan sekaligus terobosan. Banyak di antara mereka yang mendapatkan kenaikan penghasilan yang menakjubkan, promosi jabatan dan hutan-hutang yang terbayar lunas. Dia menjawab pertanyaan jemaat “apakah mencari kemakmuran itu perbuatan yang benar?”
Mereka mendasarkan pertanyaan itu dari Alkitab juga. Bukankah Alkitab berkata, “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Matius 6:24) dan “Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus menyambung lagi: “Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Markus 10:24).
Tantangan jemaatnya itulah yang membuatnya ingin membuktikan bahwa Allah menginginkan kita kaya. Yang salah bukan kekayaannya itu tetapi cara penggunaan yang tidak tepat. Menurutnya, tidaklah masalah kita menjadi kaya asal cara mencari dan memakainya tetap sesuai Firman Tuhan. Dia pun mengajarkan jemaat untuk memakai uangnya dengan bijak.
Catherine Ponder meyakinkan kita bahwa asal kita tahu bahwa sumber kekayaan itu datangnya dari Tuhan, dan harus dipakai untuk kemuliaan-Nya, maka justru seharusnya kita belajar untuk mencari kekayaan. Anak muda kaya yang disuruh Yesus menjual seluruh hartanya itu karena dia masih terikat dengan kekayaannya dan tidak memprioritaskan Tuhan.
Julianto Simanjuntak - Ibuku Luar Biasa

Awal 1950-an, Nurmala, ibuku, berkenalan dengan Theo, ayahku di sebuah rumah sakit di sebuah kabupaten Sumatera Utara. Ayahku, seorang polisi sementara ibuku bekerja sebagai perawat. Cinta mereka berkembang bak sinetron. Ketika itu, ibuku yang cantik juga “ditaksir” pria lain. Sampai-sampai ayahku dan pesaingnya sempat duel memperebutkan cintanya. Alhasil, ayahlah pemenangnya, walaupun dia harus mengorbankan telinganya yang robek dalam duel.Sejak hari itu ayah selalu memperingati hari “ulang tahun kuping”. Ayah-ibuku sering kali menceritakan peristiwa ini kepada kami, anak-anaknya. Sayangnya, romantisme ini tidak berlangsung lama.
SUKA JUDI DAN MINUM
Ayah punya kebiasaan main judi dan minum minuman keras. Tak heran, jika kekerasan menjadi sesuatu yang diakrabinya. Kalau dia sudah marah, semua yang di rumah kena imbasnya. Ibu pun kerap diperlakukan sewenang-wenang. Hal-hal kecil saja bisa memicu amarah ayah. Kalah judi, marah. Habis minum, mabuk. Rutinitas ayah setelah pulang kantor adalah makan siang, lantas pergi ke rumah teman-temannya. Kadang-kadang, teman-teman mereka bertandang ke rumah. Itu berarti judi dan mabuk. Dalam situasi ini, ibu harus selalu waspada, jangan sampai membuat ayahku marah.
Selain mendampingi ayah sebagai istri polisi dan aktif di persatuan ibu-ibu Bhayangkara, ibu membuka toko kelontong di sebelah rumah kami. Bakat ibu sebagai pedagang mulai nampak. Kehidupan ekonomi keluarga membaik. Kami punya televisi. Rumah kami selalu ramai dengan anak-anak tetangga yang ikut menonton. Kaum kerabat pun kerap menumpang. Bahkan, ada beberapa yang disekolahkan. Orang mengenal ayah-ibuku sebagai keluarga yang pandai bergaul dan murah hati.
INGIN ANAK PEREMPUAN
Orangtuaku dikaruniai delapan anak, laki-laki semua. Ketika anak pertama lahir, laki-laki, mereka sangat bersukacita. Sudah ada penerus marga. Tak lama setelah itu, berturut-turut lahir lima anak laki-laki. Aku adalah anak keenam. Ketika aku berusia 17 tahun ibu menceriterakan perasaannya ketika mengandung dan melahirkan aku. “Anak ini harus perempuan,” kata ibu menirukan kata-kata ayah ketika itu. ”Kalau tidak, ayahmu akan menceraikan aku!” Ayahku adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, juga laki-laki semua.
Tuntutan itu membuat ibuku tidak berdaya. Sepanjang ibu mengan-dung aku, dia hidup dalam ketakutan akan diceraikan oleh ayahku. Belum lagi tekanan-tekanan dan kekerasan yang dilakukan ayahku kalau kalah judi atau pulang dalam keadaan mabuk. Akhir Juli 1963 ibuku melahirkan aku, anak laki-laki lagi. Karena stres berkepanjangan, ibu mengalami pendarahan hebat dan hampir meninggal. Atas saran dokter, semua keluarga sudah berkumpul, siap melepas ibu mengakhiri penderitaannya. Tapi Tuhan belum memanggilnya. Beberapa hari kemudian, ibu sembuh dan boleh membawa aku pulang. Melihat kondisi ibu, ayah tidak jadi menceraikannya.
Tapi ayah masih tetap menantikan hadirnya seorang anak perempuan. Dua tahun kemudian ibu mengandung lagi. Ini anak ketujuh. Tetapi yang lahir masih laki-laki. Tidak sampai setahun, Tuhan memanggil si bungsu ini. Ibuku sangat sedih. Entah mengapa, perasaannya kepada adikku itu sangat mendalam. Ibu merasa kehilangan sekali. Eddy, adikku, dimakamkan di pemakaman umum tidak jauh dari rumah kami.
TIDUR DI KUBURAN
Kekerasan demi kekerasan dari ayah tetap dialami oleh ibuku. Suatu kali, dalam keadaan mabuk, ayah marah besar. Entah apa masalahnya, ibu tidak ingat. Tapi ayahku demikian marahnya sampai dia tidak puas hanya menendang dan menempeleng ibu sampai ke halaman. Waktu ayah masuk untuk mengambil ga-gang sapu, ibu melarikan diri dari rumah. Dia tidak peduli hari sudah tengah malam. Besoknya pagi-pagi benar, ketika kami akan mencari ibu, aku melihat ibu pulang dengan wajah babak-belur. ”Ibu dari mana? tanyaku. “Dari kuburan adikmu.”Ternyata tadi malam ibu tidur di kuburan Eddy, adikku.
JATUH MISKIN
Waktu terus berjalan. Kami bertujuh tumbuh menjadi remaja dan pemuda. Sifat buruk ayah ditiru oleh anak-anaknya. Judi dan mabuk dengan mudah kami pelajari dari ayah. Rumah kami seperti ”hotel”. Kami tidak pernah di rumah, kecuali untuk mandi, makan, dan tidur. Dalam situasi seperti ini, lahirlah anak kedelapan tahun 1968.
Tidak lama setelah itu, karier ayah di kepolisian mengalami masalah. Rupanya selama lima tahun terakhir ayah menggunakan gajinya untuk main judi. Negara dirugikan puluhan juta rupiah pada tahun 1975. Kepadanya diberi pilihan: mengembalikan uang negara atau dibui selama dua tahun dan dipecat dari kepolisian. Ayah memilih yang pertama.
Dalam waktu singkat, kami jatuh miskin. Linglung, seperti tidak berpijak di tanah. Ibu membawa kaleng biskuit, berisi emas dan berlian yang dikumpulkannya selama puluhan tahun ke pegadaian. Beratnya hampir 20 kilogram. Ini dilakukannya untuk menebus ayahku dari penjara. Semua tanah dijual. Toko kelontong bangkrut. Kerabat yang tadinya sering dibantu, memalingkan diri. Gaji pun masih dipotong untuk membayar sisa utang. Kami tidak punya apa-apa lagi.
MENJADI PENYELAMAT
Tetapi, kehidupan harus tetap berjalan. Baru satu di antara lima abangku yang bekerja. Maka, ibu kembali menjadi penyelamat. Dia membuka usaha jualan warung nasi soto di pasar bagi penjual sayur dan kuli pasar. Ibu menanggalkan semua kebanggaannya sebagai istri perwira polisi. Dia turun ke pasar, bergaul dengan tukang becak dan kuli angkut barang.
Bertahun-tahun, ibu berjuang. Saat orang-orang mulai lelap di peraduan, ibu bangun, dan mulai memasak. Subuh, sudah jualan. Lepas tengah hari, ibu pulang sambil memba-wa belanjaan untuk dagang besoknya. Tidak sempat istirahat, ibu masih harus mengurus suami dan ketujuh anaknya: membersihkan rumah, mencuci, dan semua pekerjaan rumah tangga lainnya. Selain itu, ibu juga melayani kekejaman ayah yang menghebat sejak ia mengalami masalah di kantor. Ibu masih harus menghadapi masalah lain. Kami, anak-anaknya, tidak serius belajar sehingga mendapat pendidikan seadanya. Kebiasaan buruk yang sudah menurun membuat tiga abangku yang terbesar sering kali pulang dalam keadaan mabuk.
AGEN PENEBUS
Aku mengenal Kristus sebagai Juruselamat dalam sebuah KKR tahun 1980. Hatiku yang baru disentuh Injil menggebu-gebu melayani keluarga, terutama ibuku. 1981 ibuku dirawat di rumah sakit. Saat ibu dalam keadaan putus asa karena penyakit yang tidak kunjung sembuh, saya mengajak ibu berdoa, meminta kesembuhan dari Tuhan. “Tuhan tidak ada!” jawab ibuku ketus. “Kalau Tuhan ada, saya mau Dia mengeluarkan saya dari sini.”
“Yakinlah,” aku menantang ibu. “Tuhan akan memberi.”Walaupun ibuku masih ragu-ragu, kami berdoa juga. Ibu memohon agar Tuhan mengasihaninya. Tuhan menjawab doa kami. Malam itu dokter menemui ibu dan berkata, “Besok, Ibu boleh pulang.” Ibuku sembuh dan pulang keesokan harinya.
Anugerah Tuhan belum berhenti. Dia juga menjamah ayahku. Melihat perubahan besar dalam diri istri dan putranya, ayah digerakkan mencari Tuhan. Ayahku juga mengalami pembaruan dalam sebuah kebangunan rohani di Medan. Sejak itu ayah menjadi sangat rajin membaca Alkitab, melayani dan banyak memberitakan Injil. Buah pertobatannya membuat anak-anaknya ikut berubah dan akhirnya menerima Kristus.
SEMUA BERUBAH
Sejak itu, kehidupan keluarga kami berubah. Kesabaran ibuku membuahkan hasil. Abang-abang dan adikku, serta banyak anggota keluarga lain akhirnya mengenal Kristus melalui pertobatan mereka. Ayah juga makin dekat dengan Tuhan dan mulai banyak berubah.
1986, ayahku sakit keras. Ibuku melakukan komitmennya, berjuang mengurus suaminya yang sakit, suami yang dulu sering menyiksa hidupnya. Itulah kuasa cinta dan kuasa pengampunan. Ibu rela menjadi agen penebus bagi suami dan anak-anaknya. Seandainya, di tengah perjalanan ibuku menjadi putus asa dan meninggalkan ayahku, tentu riwayat keluarga kami akan berbeda.
Sungguh ibu yang luar biasa. Pengorbanan ibu menjadi teladan bagi kami dan siapa saja yang mau menjadi agen penebus bagi keluarganya. Mengenang cinta ibu, aku menuliskan syair di bawah ini:
KASIH IBU TAK TERLUPAKAN
(Julianto Simanjuntak, 11 Mei 2001)
Betapa mulia cinta kasihmu
Betapa dahsyat pengorbananmu
Yang ku t’rima dari ibuku
Yang Tuhan b’rikan bagiku
Darah tercurah melahirkanku
Tangannya lelah membesarkanku
Kasih ibu sepanjang hidupku
Akan kukenang selalu
Reff:
Meski ibu kini t’lah tiada
Namun kasihmu tak akan kulupa
Bagiku kasihmu tiada duanya
Kasih ibu warisan mulia
(seperti yang ditulis dan dikisahkan oleh Pdt. Julianto Simanjuntak)
« back
© 2002-2008 bahana-magazine.com
Saturday, August 16, 2008
Hati-Hati Dengan Kartu Kredit Abn Amro
Hati-Hati Dengan Kartu Kredit Abn Amro
13 Agustus 2008
Saya adalah salah satu pemegang card holder dari Abn Amro dengan nomor kartu 5120-2122-52**-2453 yang pada saat apply pertama kali bahwa fasilitas iuran tahun pertama dan iuran tahun berikutnya akan free apabila saya bisa menggunakan credit card ini dengan melakukan minimum 10 transaksi dalam 1 tahun.
Dan pada saat masuk tahun kedua (2006) ternyata saya dikenakan iuran tahunan dan pada saat menerima billing statement, saya langsung menghubungi pihak call center untuk menanyakan hal itu. Dan oleh pihak call center saya dikonfirmasikan bahwa akan dihubungi mengenai hal ini.
Tapi sampai dengan billing statement bulan berikutnya tidak ada follow up sama sekali dari pihak Abn Amro. Saya menelpon kembali ke pihak call center tapi jawabannya masih sama saja. Akhirnya saya berinisiatif sendiri pada tanggal 21 september 2006 untuk menyurat dan menutup kartu kredit tersbut ke abn amro.
Beberapa hari sebelumnya saya menerima telpon dari pihak abn amro bahwa kartu kredit saya diindikasikan ada penipuan jadi untuk sementara tidak dapat digunakan lagi karena diblokir dan saya menyampaikan juga untuk apa diblokir karena kartunya juga sudah telah saya tutup jadi tidak perlu diterbitkan lagi yang baru.
Ternyata dibulan-bulan berikutnya billing statement dan sms2 promo2 kartu kredit Abn Amro tetap saya terima. Dan akhirnya pada bulan desember saya menelpon kembali ke call center Abn Amro dan jawaban dari mereka sangat tidak memuaskan dan sangat tidak membantu. Saya berinisiatif untuk menyurat ke card center Abn amro jakarta tepatnya per tanggal surat 18 Desember 2006 mengenai kelanjutan dari masalah ini tapi ternyata tidak ada tanggapan sama sekali.
Kira2 dibulan februari 2007, 2 orang debt collector dari pihak Abn amro yang mendatangi saya untuk menagih tunggakan kartu kredit saya. Saya katakan ke mereka bahwa tunggakan yang muncul itu bukan dari hasil transakasi pembelanjaan tapi dari iuran annual fee yang seharusnya dijanjikan ke saya itu gratis. Dan itu bisa dicheck. Dan saya juga mengcopy 2 surat penutupan yang saya kirimkan ke card center jakarta dan memberikan ke mereka untuk dilakukan pengecekan.
Dan saya mengatakan ke mereka bahwa ini bukan masalah jumlah uangnya tapi dengan diperlakukan seperti ini, saya merasa ditipu.
Setelah itu tidak pernah ada follow up dari pihak abn amro. Sampai akhirnya di bulan juli 2008 ini secara tidak sengaja saya mengetahui bahwa ternyata masalah ini masih terus berlanjut. Di tanggal 7 agustus 08 saya menelpon kembali ke call center abn amro dan saya diminta untuk menghubungi bagian collection karena kartu saya sudah ditangani oleh bagian itu. Setelah saya mencoba menghubungi bagian colection beberapa kali tapi telpnya sibuk terus, akhirnya saya menghubungi kembali call center untuk mencari informasi no telpon yang lain. Dan telp saya di terima oleh mba Yuni yang mengkonfirmasikan bahwa hanya itu no telpon bagian collection. Dan kalo memang telp nya gak bisa tersambung, saya diminta untuk mencoba terus sampai telp tsb tersambung. Suatu jawaban yang seenak aja gak ada solusi sama sekali. Benar2 mengecewakan.
Akhirnya sekitar jam 16.13 wita, akhirnya telpon saya tersambung, dan telpon saya diterima oleh mba Karin bagian collection. Setelah menceritakan perihal kartu kredit saya ini, malah saya diminta untuk menghubungi call center lagi. Benar2 binggung saya dibuatnya. Saya merasa seperti dipingpong2 padahal saya ingin kejelasan dan berniat menyelesaikan permasalahan kartu kredit saya.
Akhirnya mba karin dengan berat hati berjanji untuk mengkonfirmasikan ke saya mengenai hal.
Tapi sampai dengan hari dimana saya mengirimkan email ini tidak ada follow up dari pihak abn amro. Saya benar2 sangat kecewa dengan card center abn amro, dan saya berjanji tidak akan pernah mau menggunakan kartu ini lagi. Saya juga menyampaikan ke keluarga , teman2 dan relasi2 saya untuk berhati2 dalam mengapply kartu kredit abn amro.
Terima kasih
Merlina W
Jl. Cendrawasih No. 32
Makassar
13 Agustus 2008
Saya adalah salah satu pemegang card holder dari Abn Amro dengan nomor kartu 5120-2122-52**-2453 yang pada saat apply pertama kali bahwa fasilitas iuran tahun pertama dan iuran tahun berikutnya akan free apabila saya bisa menggunakan credit card ini dengan melakukan minimum 10 transaksi dalam 1 tahun.
Dan pada saat masuk tahun kedua (2006) ternyata saya dikenakan iuran tahunan dan pada saat menerima billing statement, saya langsung menghubungi pihak call center untuk menanyakan hal itu. Dan oleh pihak call center saya dikonfirmasikan bahwa akan dihubungi mengenai hal ini.
Tapi sampai dengan billing statement bulan berikutnya tidak ada follow up sama sekali dari pihak Abn Amro. Saya menelpon kembali ke pihak call center tapi jawabannya masih sama saja. Akhirnya saya berinisiatif sendiri pada tanggal 21 september 2006 untuk menyurat dan menutup kartu kredit tersbut ke abn amro.
Beberapa hari sebelumnya saya menerima telpon dari pihak abn amro bahwa kartu kredit saya diindikasikan ada penipuan jadi untuk sementara tidak dapat digunakan lagi karena diblokir dan saya menyampaikan juga untuk apa diblokir karena kartunya juga sudah telah saya tutup jadi tidak perlu diterbitkan lagi yang baru.
Ternyata dibulan-bulan berikutnya billing statement dan sms2 promo2 kartu kredit Abn Amro tetap saya terima. Dan akhirnya pada bulan desember saya menelpon kembali ke call center Abn Amro dan jawaban dari mereka sangat tidak memuaskan dan sangat tidak membantu. Saya berinisiatif untuk menyurat ke card center Abn amro jakarta tepatnya per tanggal surat 18 Desember 2006 mengenai kelanjutan dari masalah ini tapi ternyata tidak ada tanggapan sama sekali.
Kira2 dibulan februari 2007, 2 orang debt collector dari pihak Abn amro yang mendatangi saya untuk menagih tunggakan kartu kredit saya. Saya katakan ke mereka bahwa tunggakan yang muncul itu bukan dari hasil transakasi pembelanjaan tapi dari iuran annual fee yang seharusnya dijanjikan ke saya itu gratis. Dan itu bisa dicheck. Dan saya juga mengcopy 2 surat penutupan yang saya kirimkan ke card center jakarta dan memberikan ke mereka untuk dilakukan pengecekan.
Dan saya mengatakan ke mereka bahwa ini bukan masalah jumlah uangnya tapi dengan diperlakukan seperti ini, saya merasa ditipu.
Setelah itu tidak pernah ada follow up dari pihak abn amro. Sampai akhirnya di bulan juli 2008 ini secara tidak sengaja saya mengetahui bahwa ternyata masalah ini masih terus berlanjut. Di tanggal 7 agustus 08 saya menelpon kembali ke call center abn amro dan saya diminta untuk menghubungi bagian collection karena kartu saya sudah ditangani oleh bagian itu. Setelah saya mencoba menghubungi bagian colection beberapa kali tapi telpnya sibuk terus, akhirnya saya menghubungi kembali call center untuk mencari informasi no telpon yang lain. Dan telp saya di terima oleh mba Yuni yang mengkonfirmasikan bahwa hanya itu no telpon bagian collection. Dan kalo memang telp nya gak bisa tersambung, saya diminta untuk mencoba terus sampai telp tsb tersambung. Suatu jawaban yang seenak aja gak ada solusi sama sekali. Benar2 mengecewakan.
Akhirnya sekitar jam 16.13 wita, akhirnya telpon saya tersambung, dan telpon saya diterima oleh mba Karin bagian collection. Setelah menceritakan perihal kartu kredit saya ini, malah saya diminta untuk menghubungi call center lagi. Benar2 binggung saya dibuatnya. Saya merasa seperti dipingpong2 padahal saya ingin kejelasan dan berniat menyelesaikan permasalahan kartu kredit saya.
Akhirnya mba karin dengan berat hati berjanji untuk mengkonfirmasikan ke saya mengenai hal.
Tapi sampai dengan hari dimana saya mengirimkan email ini tidak ada follow up dari pihak abn amro. Saya benar2 sangat kecewa dengan card center abn amro, dan saya berjanji tidak akan pernah mau menggunakan kartu ini lagi. Saya juga menyampaikan ke keluarga , teman2 dan relasi2 saya untuk berhati2 dalam mengapply kartu kredit abn amro.
Terima kasih
Merlina W
Jl. Cendrawasih No. 32
Makassar
Tindakan Tidak Terpuji Staf Celebrity Fitness
Tindakan Tidak Terpuji Staf Celebrity Fitness
Enricus Henry - suaraPembaca
Jakarta - Saya adalah member Celebrity Fitness (Celfit) Tunjungan Plaza Surabaya sejak Februari 2007. Ada beberapa hal yang buat saya sangat kecewa terhadap pelayanan dari Celfit. Terutama untuk Celfit di Tunjungan Plaza Surabaya.
Perilaku staf (baik pada front desk maupun staf trainer) sangat tidak sopan. Saya pernah bertanya-tanya tentang program-program dan promosi-promosi dari Celfit kepada staf yang ada di front desk (Namanya Linda). Namun, yang bersangkutan seolah-olah tidak ada niat untuk menjelaskan, dan yang lebih membuat sakit hati, yang berangkutan melontarkan kata-kata yang cukup pedas, yaitu: "kalo gak mampu ikut gak perlu tanya-tanya".
Saya sebagai member sangat tersinggung oleh perkataan seperti itu. Selain itu, ada personal trainer yang juga sangat tidak sopan. Pada tanggal 25 Juli 07, saya sedang melakukan fitness di salah satu alat. Tiba-tiba datang trainer (namanya Budi) bersama salah satu member, dan dengan enaknya langsung berkata, "Mas, pake alat itu jangan lama-lama, banyak yang antri."
Saya sangat kecewa dengan kata-kata tersebut. Dan masih banyak perlakuan-perlakuan yang kurang menyenangkan dari pihak Celfit selama saya menjadi member di sana. Apa staf Celfit tidak pernah diajarkan bagaimana berkomunikasi dengan member? Bagaimana menjaga kepuasan customer?
Karena beberapa kali mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan, maka saya putuskan untuk berhenti pada tanggal 25 Juli 07. Untuk itu saya diharuskan membayar biaya pemutusan member sebesar 500 ribu, dan menurut CS dan Celfit, per bulan September 07, keanggotaan saya sudah tidak berlaku, dan pembayaran juga akan otomatis berhenti.
Setelah itu, kartu member segera saya kembalikan ke CS tersebut (nama CS saya lupa). Pada tanggal 20 Oktober 07, Saya ditelepon dari pihak bank dan diminta melunasi tunggakan tagihan kartu kredit bulan Agustus dan September 07. Saya sangat heran, karena selama bulan Agustus dan September, saya tidak pernah melakukan transaksi memakai kartu tersebut.
Setelah minta penjelasan dari bank, akhirnya ketahuan bahwa ternyata kartu tersebut masih didebet oleh Celfit pada bulan Agustus, September, dan Oktober. Saat itu juga saya langsung menghubungi Celfit untuk mengkonfirmasi hal tersebut. Dan yang membuat saya kaget ternyata status member saya masih dinyatakan aktif dan selama bulan Agustus-Oktober 07, saya juga dinyatakan aktif menggunakan member tersebut di Celfit Tunjungan Plasa.
Sungguh aneh. Ternyata member yang sudah saya tutup dialihkan ke orang lain. Namun, pembayaran memakai kartu kredit saya. Kemudian saya komplain ke pihak Celfit, namun mereka tidak bisa memberi solusi. Menurut mereka, saya dinyatakan masih aktif dan masih tetap menggunakan member sehingga pembayaran yang ada tidak bisa dikembalikan, dan mereka menawarkan solusi untuk menutup member yaitu dengan membayar biaya penutupan sebesar 500 ribu.
Sungguh perlakuan yang benar-benar KETERLALUAN. Bukannya pihak Celfit mengevaluasi diri dan mencari pelaku yang mengalihkan member saya dan memberikan solusi yang baik, namun yang terjadi semua dilimpahkan ke saya. Seolah-olah ini memang salah saya! Akhirnya saya putuskan untuk melunasi sisa tagihan kartu kredit dan menutup kartu tersebut agar TIDAK DISALAHGUNAKAN oleh pihak Celfit di kemudian hari.
Saya cuma mau menghimbau kepada teman-teman yang akan atau sudah bergabung dengan Celfit, agar BERHATI-HATI dalam melakukan transaksi pembayaran menggunakan kartu kredit. Sudah banyak member Celfit yang jadi korban. Baik penipuan dari karyawan Celfit maupun akibat kesalahan sistem komputerisasi.
Saya juga mengimbau kepada pihak Celfit mendidik karyawan sebaik mungkin. Sangat disayangkan jika nama besar Celfit akan hancur dikarenakan oleh tindakan-tindakan tidak terpuji dari karyawan. Semoga Tuhan memberkati Celfit agar bisa kembali ke jalan yang lurus. Thanks.
Enricus Henry
Jl Cempaka No 34 Surabaya
enricushenry@kittymail.com
Enricus Henry - suaraPembaca
Jakarta - Saya adalah member Celebrity Fitness (Celfit) Tunjungan Plaza Surabaya sejak Februari 2007. Ada beberapa hal yang buat saya sangat kecewa terhadap pelayanan dari Celfit. Terutama untuk Celfit di Tunjungan Plaza Surabaya.
Perilaku staf (baik pada front desk maupun staf trainer) sangat tidak sopan. Saya pernah bertanya-tanya tentang program-program dan promosi-promosi dari Celfit kepada staf yang ada di front desk (Namanya Linda). Namun, yang bersangkutan seolah-olah tidak ada niat untuk menjelaskan, dan yang lebih membuat sakit hati, yang berangkutan melontarkan kata-kata yang cukup pedas, yaitu: "kalo gak mampu ikut gak perlu tanya-tanya".
Saya sebagai member sangat tersinggung oleh perkataan seperti itu. Selain itu, ada personal trainer yang juga sangat tidak sopan. Pada tanggal 25 Juli 07, saya sedang melakukan fitness di salah satu alat. Tiba-tiba datang trainer (namanya Budi) bersama salah satu member, dan dengan enaknya langsung berkata, "Mas, pake alat itu jangan lama-lama, banyak yang antri."
Saya sangat kecewa dengan kata-kata tersebut. Dan masih banyak perlakuan-perlakuan yang kurang menyenangkan dari pihak Celfit selama saya menjadi member di sana. Apa staf Celfit tidak pernah diajarkan bagaimana berkomunikasi dengan member? Bagaimana menjaga kepuasan customer?
Karena beberapa kali mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan, maka saya putuskan untuk berhenti pada tanggal 25 Juli 07. Untuk itu saya diharuskan membayar biaya pemutusan member sebesar 500 ribu, dan menurut CS dan Celfit, per bulan September 07, keanggotaan saya sudah tidak berlaku, dan pembayaran juga akan otomatis berhenti.
Setelah itu, kartu member segera saya kembalikan ke CS tersebut (nama CS saya lupa). Pada tanggal 20 Oktober 07, Saya ditelepon dari pihak bank dan diminta melunasi tunggakan tagihan kartu kredit bulan Agustus dan September 07. Saya sangat heran, karena selama bulan Agustus dan September, saya tidak pernah melakukan transaksi memakai kartu tersebut.
Setelah minta penjelasan dari bank, akhirnya ketahuan bahwa ternyata kartu tersebut masih didebet oleh Celfit pada bulan Agustus, September, dan Oktober. Saat itu juga saya langsung menghubungi Celfit untuk mengkonfirmasi hal tersebut. Dan yang membuat saya kaget ternyata status member saya masih dinyatakan aktif dan selama bulan Agustus-Oktober 07, saya juga dinyatakan aktif menggunakan member tersebut di Celfit Tunjungan Plasa.
Sungguh aneh. Ternyata member yang sudah saya tutup dialihkan ke orang lain. Namun, pembayaran memakai kartu kredit saya. Kemudian saya komplain ke pihak Celfit, namun mereka tidak bisa memberi solusi. Menurut mereka, saya dinyatakan masih aktif dan masih tetap menggunakan member sehingga pembayaran yang ada tidak bisa dikembalikan, dan mereka menawarkan solusi untuk menutup member yaitu dengan membayar biaya penutupan sebesar 500 ribu.
Sungguh perlakuan yang benar-benar KETERLALUAN. Bukannya pihak Celfit mengevaluasi diri dan mencari pelaku yang mengalihkan member saya dan memberikan solusi yang baik, namun yang terjadi semua dilimpahkan ke saya. Seolah-olah ini memang salah saya! Akhirnya saya putuskan untuk melunasi sisa tagihan kartu kredit dan menutup kartu tersebut agar TIDAK DISALAHGUNAKAN oleh pihak Celfit di kemudian hari.
Saya cuma mau menghimbau kepada teman-teman yang akan atau sudah bergabung dengan Celfit, agar BERHATI-HATI dalam melakukan transaksi pembayaran menggunakan kartu kredit. Sudah banyak member Celfit yang jadi korban. Baik penipuan dari karyawan Celfit maupun akibat kesalahan sistem komputerisasi.
Saya juga mengimbau kepada pihak Celfit mendidik karyawan sebaik mungkin. Sangat disayangkan jika nama besar Celfit akan hancur dikarenakan oleh tindakan-tindakan tidak terpuji dari karyawan. Semoga Tuhan memberkati Celfit agar bisa kembali ke jalan yang lurus. Thanks.
Enricus Henry
Jl Cempaka No 34 Surabaya
enricushenry@kittymail.com
Wednesday, August 13, 2008
Ida Kuraeny: Ratu Asuransi Indonesia Buka Rahasia Sukses
Ida Kuraeny: Ratu Asuransi Indonesia Buka Rahasia Sukses
sumber : pembelajar.com
Ida Kuraeny, profesional agent PT. Asuransi Jiwa Sewu New York Life (kini berganti nama menjadi Sequislife: red), bisa dibilang “ratunya” jagad asuransi Indonesia. Betapa tidak? Cukup berbekal pendidikan formal SMKK, dan sejumlah program ekstensi, Ida melejit sebagai penjual asuransi terbaik di negeri ini. Sejak tahun 1997 hingga 2001 lalu, Ida selalu masuk kualifikasi MDRT (Million Dollar Round Table). Tahun 1999 ia mencapai posisi Top of the Table. Sebuah posisi prestisius di antara para anggota MDRT lainnya. Tahun 1998, ia meraih penghargaan sebagai Top Agent of the Year. Dan tahun 2000 dan 2003 ia meraih Top Agent Award versi Dewan Asuransi Indonesia (DAI) kategori Best Senior Productive Producer. Terlalu panjang jika disebutkan semua pernghargaan yang diraihnya.
Menekuni asuransi sejak usia 24 tahun, Ida menganggapnya sebagai profesi “kecelakaan”. “Tidak ada seorang agen pun, di asuransi ini, yang awalnya bercita-cita menjadi agen,” kenang Ida, kelahiran Surabaya, 13 Agustus 1969. Keluarga tidak mendukung karena cerita-cerita miring di profesi ini. Syukur, sang suami malah paling semangat mendukungnya. Namun, keputusan “mantan” pegiat MLM dan sales door to door ini tidak salah. Ia menemukan jati diri bisnisnya di asuransi.
Dengan prinsip learning by doing, Ida membuktikan profesinya sangat layak diperhitungkan. Bahkan patut jadi kebanggaan. Ida berhasil menjual premi rata-rata per tahun di atas Rp500 juta. Kini ia memiliki lebih dari 600 nasabah. Khusus tahun 2001 lalu, total penghasilan dari komisi tahun berjalan, komisi tahun sebelumnya, berbagai bonus, dan renewel business, bisa mencapai di atas Rp500 juta!
Bukan itu saja! Kepiawaian di bidang asuransi –yang ditimbanya dari pengalaman– telah melahirkan lembaga konsultan marketing bernama Ida Kuraeny & Associates yang berkantor di Lt.37 Wisma GKBI, Jl. Jend. Sudirman, Jakarta Pusat. Sebuah lembaga yang memberikan pelayanan public speaking bidang asuransi, marketing, customer service, dan management skills. Dengan lembaga itu, Ida ingin supaya ketika orang bicara asuransi, mereka ingat namanya. Tentu saja impian itu makin menjadi kenyataan setelah Ida berhasil menyelesaikan bukunya tentang seluk beluk profesi agen asuransi yang berjudul Membuat Impian Menjadi Kenyataan (Gramedia, 2003).
“Saya dulu sering perhatikan orang-orang di sekeliling Sudirman, di mal-mal, di café-café. Keren-keren bajunya…bawa mobil mewah. Kapan ya bisa seperti itu? Saya bayangkan kalau bisa seperti mereka. Itu memotivasi diri saya,” kenang Ida. Dan mimpi ibu dari Oto, Ony, Sela, dan Ridho ini kesampaian sudah. Berikut petikan wawancara Edy Zaqeus dengan Ida Kuraeny di kantornya di Jakarta Selatan.
Bagaimana awal ceritanya Anda bisa nyemplung di bisnis asuransi?
Tidak ada seorang agen pun, yang awalnya bercita-cita menjadi agen asuransi. Nggak ada. Accident. Kita tahu kan profesi agen asuransi itu paling tidak diminati, paling ditakuti, atau pilihan terakhir. Bahkan keluarga awalnya sama sekali tidak mendukung. Padahal, menjual asuransi yang kita dekati kan keluarga dulu, seperti di MLM. Dengan kondisi seperti itu saya tertantang. Tapi karena waktu itu leader saya kurang memperhatikan, tahun 1991 saya hanya bertahan tiga bulan di asuransi Universal Lifeindo dari Philipina dan partner Indonesianya dari Gunung Sewu Kencana. Tahun 1992 mereka diakuisisi New York Life International, saya kembali masuk tahun 1994. Tahun itu keputusan saya bulat. Dari situlah saya mulai menjadi agen.
Apa yang dilakukan seorang agen asuransi?
Sebenarnya sama dengan MLM. Kalau MLM produk dalam bentuk barang, kalau saya bentuknya kertas jaminan masa depan. Sifatnya abstrak. Butuh kemampuan luar biasa untuk meyakinkan mereka supaya membeli produk asuransi. Seperti di industri MLM, pertama kita harus mengumpulkan bank nama. Investasi atau aset terbesar kita ada di bank nama itu. Di asuransi minimal kita punya 100 bank nama. Dari 100 nama itu kita kembangkan, diklasifikasikan mana yang potensial membeli asuransi.
Dulu saya berawal dari pasar-pasar kecil. Karena saya bukan anak orang kaya. Mau nawari direktur, ya saat itu nggak punya nyali. Yang membuat saya surprais sampai hari ini adalah, dari pasar yang kecil-kecil, saya berubah jadi (mempunyai) pasar besar. Orang-orang di perusahaan mengenal saya sebagai agen kelas teri. Tapi kecil-kecil beratnya bisa satu ton ha ha ha… Saya bisa menjual 100 polis dalam satu tahun, secara konsisten tiga tahun berturut-turut.
Bagaimana dari agen kelas teri jadi ke pangsa pasar yang besar?
Karena saya merawat after sales service. Komisi di asuransi besar, kan? Kita tahu komisinya 30%, ditambah bonus-bonus kalau kita mencapai level tertentu. Dengan komisi tadi saya alokasikan sebagian untuk biaya servis. Hal itu jarang dilakukan oleh agen lain. Saya punya moto, masa depan saya merupakan investasi saya hari ini. Sebagai agen kita tidak punya bos, bisnis sendiri, wirausaha mandiri. Kita itu entrepreneur. Berarti harus punya modal. Modalnya apa? Yaitu tadi bagaimana maintenance klien saya after sales service. Contohnya kartu ucapan edisi khusus untuk para nasabah. Saya juga kerjasama dengan tukang bunga, tukang kue, tukang balon untuk saya kirim kepada mereka.
Mengapa nyemplung di asuransi?
Waktu saya keluar, suami saya tetap menekuni asuransi. Setelah di resepsionis saya kan di marketing, deal dengan orang-orang lain. Sehari punya target ketemu delapan customer, delapan tempat. Lalu suami menyarankan, ‘Dengan ketemu delapan orang sehari, kenapa tidak di asuransi? Uangnya lebih gedhe?’. Di marketing saya dapat semua fasilitas. Hanya saja orang umumnya agak sulit melepaskan kenyamanan kan? Tapi dengan kepercayaan ketemu jumlah orang yang sama, uang akan lebih besar, saya bilang saya mau dapat yang lebih besar lagi!
Lalu saya mulai di asuransi dari nol. Saya lebih memilih ke professional agent. Saya tidak memilih di manajemen, karena kalau di manajemen berarti saya employee tidak beda dengan yang dulu. Sebagai professional agent pendapatannya tidak terbatas. Yang saya lihat fleksibel waktu dan fleksibel income.
Bagaimana cara memprospek orang-orang atas?
Menghadapi prospek seorang direktur pun, saya harus punya posisi selevel dengan dia. Dalam arti income ya…. Kalau kepintaran mungkin dia lebih pintar di bidangnya. Tapi bidang asuransi, sayalah ahlinya. Itu harus diciptakan! Supaya calon prospek melihat, ‘Oh ya, saya nggak salah orang nih’. Self confidence kita harus dibentuk dengan bantuan performance tentunya, skill, attitude, dan pola pikir. Dia akan melihat apakah ‘Orang ini layak nggak berbisnis dengan saya’.
Pada dasarnya kita mencari kesamaan, kan? Baru kita bisa in di situ. Sekarang saya lebih banyak ke pengusaha. Berarti pola pikir saya harus sama dengan seorang pengusaha. Misalnya, apa saja sih yang mereka pikirkan? Bicara masa depan, masalah karyawan. Saya sekarang lebih suka jual pada owner perusahaan. Sekali kerja saya bisa dapat polis di atas sepuluh. Yang saya incar karyawannya, makanya saya harus berpola pikir sebagai owner. Begitu ketemu bikin janji, kita nyambung.
Makanya tergantung pasarnya. Bahasa saya menyesuaikan. Jadi mereka bisa melihat ‘Eh, gaya bahasanya sama dengan saya’. Saya terbiasa menyamakan logat dengan calon prospek. Saya ketemu orang Jawa saya ikuti logatnya, ketemu orang Sunda saya bahasa Sunda. Senang mereka. Itu bermanfaat sekali karena suasana pembicaraan jadi alami. Jadi saya harus menyamakan kedudukan saya dulu.
Dari mana Anda belajar teknik-teknik seperti itu?
Learning by doing. Dengan saya sering ketemu orang, lama kelamaan saya tahu karakter orang. Belajar dengan sendirinya. Baca juga, itu informasi paling murah dan cepat. Saya bukan lulusan S-1, S-2, MBA bukan…. SMA saja. Mereka yang punya titel lebih tinggi itu pasti lebih pintar dari saya seharusnya.
Ketrampilan-ketrampilan dasar apa yang mesti dimiliki seorang agen asuransi?
Sederhana. Etiket nomor satu, karena itu yang menjembatani kita bisa bicara lebih dalam. Kalau kesan pertama tidak mengenakkan, apa akan terjadi pertemuan kedua? Etiket adalah tata krama, tata bahasa, intonasi suara, gaya bahasa, itu mempengaruhi. Gaya bahasa menunjukkan intelektualitas kita, kan? Gaya bahasa dan kepandaian berkomunikasi menentukan.
Harus punya ketrampilan membaca situasi. Saya harus bisa analisis. Dari suara pun bisa. Performance. Kita harus bisa menempatkan diri dengan siapa yang akan kita temui. Saya harus menyesuaikan. Kita juga perlu tahu asuransi dipandang dari sudut agama, dari segi hukum, segi ekonomi, sosial, psikologi. Saya ndak harus sekolah dulu di UI ambil semua jurusan ha ha ha… Ndak mungkin, kan? Belajar sambil jalan. Baca sambil ketemu orang dan menganalisa.
Saat bertemu prospek pertama kali, biasanya apa yang ditawarkan?
Awalnya –saat tidak berhasil—saya langsung tabrak lari. Artinya, begitu dapat janji ketemu, saya datang dengan proposal. Ndak peduli perasaan cocok apa ndak, main tembak aja, Rp100 juta uang pertanggungan bayar premi Rp12 juta. Orang shock! Jadi kegagalan itu saya analisis. Saya harus tahu dulu masa depan dia. Saya bertindak sebagai seorang konsultan. Bukan sebagai penjual asuransi. Konsultan memberikan solusi, bukan memberi produk langsung. Jadi fact finding dulu, orang ini ke mana arah hidupnya. Harus banyak bertanya dan banyak mendengar.
Di situ kuncinya. Kita akan bisa mengarahkan. Bagaimana tekniknya, ya banyak belajar dan bertemu orang setiap hari. Di perusahaan kami, standar ketemu dua orang sehari, saya lebihkan empat. Rasionya ketemu sepuluh, baru satu closing (yang mau beli: red). Itu bagi yang baru bergabung. Seperti saya sekarang, sekali ketemu bisa closing dengan uang pertanggungan cukup besar.
Saat bertemu prospek, jangan bersikap seperti hakim yang mendakwa kliennya. Mereka tidak akan senang. Kuncinya, saat ingin dapat informasi, berilah informasi tentang diri kita dulu. Kreatifitas harus tinggi. Insting dan ketajaman harus bisa menyesuaikan dengan situasi.
Pernah mengalami kesulitan dalam memrospek?
Pada saat bertemu dengan orang yang sudah kaya, sulit sekali mengambil uang mereka. Sulit meyakinkan bahwa dia tetap butuh asuransi. Duitnya nggak bakalan habis, bagaimana? Dari segi agama sudah ndak mempan, ekonomi apa lagi? Lalu dari mana lagi? Saya singgung dari segi egonya, psikologinya. Saya sangat percaya bisnis dia tidak habis untuk tujuh turunan. Tapi saya juga yakin dalam kondisi sudah di puncak tertinggi, dia butuh pengakuan secara sosial-ekonomi. Butuh aktualisasi diri, masuk ke lingkungan badan sosial, ke yayasan-yayasan. Kan banyak yayasan-yayasan sosial sebagai bentuk aktualisasi diri, supaya seseorang dihargai masyarakat luas? Nah, saya masuk dari situ. Mereka bisa memberi dana abadi kepada yayasan. Kita dibenarkan memberikan santunan kematian dengan ahli waris berbentuk yayasan.
Pengalaman “menyedihkan” ada?
Ada! Saya dimarahin. Kalau Anda pernah ditolak asuransi (karena hasil medical check-up: red), masuk ke asuransi lain lebih sulit. Boleh dibilang 90% tidak diterima lagi. Kecuali, asuransi itu main-main, atau ada data-data yang disembunyikan. Pada waktu ditolak, tidak semua orang siap. Akhirnya nasabah tadi marah.
Bagaimana menaklukkan prospek yang sudah ikut asuransi atau banyak alasan penolakan?
Diskusikan kembali, karena asuransi banyak jenisnya. “Kalau Bapak sudah beli, saya malah senang hati. Berarti saya tidak ketemu orang yang salah!” Kenapa? Karena mereka jelas lebih mengerti dong. Saya tidak perlu menerangkan dari awal sekali. “Saya sudah banyak lho asuransinya..” Tidak selalu, kalau prospek ada masalah, langsung saya jawab. Capek kalau begitu. Saya analisis dulu, apakah ini benar-benar masalah, objections, atau sekedar kepura-puraan untuk menolak. Saya selalu bilang, “Kalau saya bisa menjawab semua keberatan Bapak, Bapak mau beli asuransi dari saya…?” Saya tantang begitu.
Perbedaanya orang Indonesia dengan orang Amerika kalau beli asuransi; orang Indonesia…”Ida, berapa nanti yang bakal gue terima? Duit gue bakal berapa 15 tahun kemudian?” Kalau orang Amerika, yang sudah mengenal asuransi..”Nanti yang akan diterima keluargaku berapa?” Beda, kan? Satu buat ‘keluarga’, satu buat ‘saya’… ego, kan?
Solusinya apa?
Ajaklah prospek diskusi dulu. Tidak ada ikatan membeli, kan? Tidak ada maksud menggurui. Kalau agen kreatif, dia bisa mengubah prospek yang semula sekadar ingin tahu, berubah jadi pembeli. Tugas kita hanya menjelaskan. Di asuransi jiwa itu yang diasuransikan adalah nilai ekonomi kita pengertiannya, bukan jiwanya. Kalau meninggal, tidak bekerja, income hilang dong. Jadi yang diasuransikan incomenya, bukan jiwanya. Saya harus tahu financial commitment prospek. Saya harus tahu income dan pengeluarannya, karena saya seorang konsultan, bukan penjual. Kebanyakan agen kita menjual secara umum saja. Nasabah beli Rp.1-10 juta sudah cukup. Dianggap sudah besar oleh seorang agen. Ini kejadian, saya gali lagi nasabah itu, dia bisa beli Rp100 juta!
Berapa waktu Anda alokasikan untuk setiap prospek?
Tergantung, ya. Di industri kita pada dasarnya kalau ada buying signal (tanda-tanda membeli) baru akan terjadi penjualan. Tanda-tanda itu harus kita ciptakan dulu. Itu mempercepat proses. Buying signal itu antara lain begini; ”Ya, udah deh, kamu datang dulu ke tempatku, jelaskan 15 menit saja!” Kedua, dia banyak bertanya detailnya. “Kalau ada perang bagaimana?”, “Kalau saya pindah ke luar negeri bagaimana?” Kita harus ciptakan dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengarah ke buying signal.
Pengalaman paling menyenangkan di bisnis ini?
Wow….kalau dapat cash besar! Satu keluarga beli Rp600 juta premi dalam waktu dua tahun. Padahal waktu itu rekor tertingginya di tahun 1998, sekali beli adalah Rp250 juta. Jadi boleh dibilang Allah mengijinkan… Pada waktu krisis penjualan saya meningkat. Tahun 1998 itu saya yang pertama memecahkan rekor Rp1 milyar untuk perusahaan saya. Rekor perusahaan sejak 1992 baru terpecahkan tahun 1998 oleh saya. Secara nasional itu rekor kedua, karena yang pertama dipecahkan oleh AIA Rp1 milyar di tahun 1997. Saya baru bisa pecahkan tahun 1998. Saya the Best Agent tahun 1999 di perusahaan. Sekarang untuk the Best Agent harus menjual Rp2,5 milyar setahun.
Apakah Anda punya target-target dalam bisnis ini?
Tahun 2000 saya dapat penghargaan sebagai Top Agent Award kategori Best Senior Productive Producer (Peringkat I) dari DAI. Saya berprinsip harus punya peringkat di DAI. Itu prestisius nasional. Tapi yang lebih prestisius lagi adalah anggota MDRT yang anggotanya para agen seluruh dunia. Ada tiga katagori MDRT; biasa, Court of Table, dan Top of the Table. Untuk jadi Top of the Table, dia harus punya kualifikasi penjualan enam kalinya MDRT biasa. Untuk MDRT biasa tahun 2001, dia harus menjual Rp439 juta premi. Saya sudah lima kali berturut-turut kualifikasi MDRT. Di Indonesia (sampai 2002: red), kurang dari delapan orang dengan kualifikasi MDRT lima kali berturut-turut. Tahun 2001 adalah MDRT keenam saya berturut-turut. Mimpi saya adalah menjadi MDRT seumur hidup. Kedua, bisa sepuluh kali berturut-turut. Enam kali sudah, itu rekor di Indonesia (data terakhir hingga 2004, Ida sudah meraih kualifikasi MDRT 10 kali: red).
Mimpi lainnya?
Mimpi lain saya menjadi (public) speaker. Saya sekarang sudah punya accociate sendiri untuk mengeducate para agen. Visi saya, dengan menjadi agen profesional, kita juga bisa punya bisnis sendiri. Ssalah satunya adalah sebagai public speaker. Secara finansial, saya tidak ingin punya masalah keuangan. Alhamdulilah, kami sudah lewati masa-masa kritis tersebut. Saya juga ingin membuktikan kepada masyarakat, bahwa profesi agen asuransi itu bukan profesi yang dipandang sebelah mata. Saya bangga sebagai agen profesional, karena saya bisa diterima di kalangan mana pun. Kalau kita profesional, hasil jerih payah kita itu ada harganya.
Saran saya kepada agen baru adalah disiplin. Milikilah disiplin kerja yang tinggi, karena pekerjaan kita hari ini tidak langsung berbuah. Kalau mandeg, maka untuk memulai usaha lagi sulit. Disiplin diri, membangun performance diri, membangun motivasi diri, dan tularkan antusias kita kepada mereka, yang selama ini belum mengerti asuransi. Belajarlah pada mereka yang sudah sukses.*
sumber : pembelajar.com
Ida Kuraeny, profesional agent PT. Asuransi Jiwa Sewu New York Life (kini berganti nama menjadi Sequislife: red), bisa dibilang “ratunya” jagad asuransi Indonesia. Betapa tidak? Cukup berbekal pendidikan formal SMKK, dan sejumlah program ekstensi, Ida melejit sebagai penjual asuransi terbaik di negeri ini. Sejak tahun 1997 hingga 2001 lalu, Ida selalu masuk kualifikasi MDRT (Million Dollar Round Table). Tahun 1999 ia mencapai posisi Top of the Table. Sebuah posisi prestisius di antara para anggota MDRT lainnya. Tahun 1998, ia meraih penghargaan sebagai Top Agent of the Year. Dan tahun 2000 dan 2003 ia meraih Top Agent Award versi Dewan Asuransi Indonesia (DAI) kategori Best Senior Productive Producer. Terlalu panjang jika disebutkan semua pernghargaan yang diraihnya.
Menekuni asuransi sejak usia 24 tahun, Ida menganggapnya sebagai profesi “kecelakaan”. “Tidak ada seorang agen pun, di asuransi ini, yang awalnya bercita-cita menjadi agen,” kenang Ida, kelahiran Surabaya, 13 Agustus 1969. Keluarga tidak mendukung karena cerita-cerita miring di profesi ini. Syukur, sang suami malah paling semangat mendukungnya. Namun, keputusan “mantan” pegiat MLM dan sales door to door ini tidak salah. Ia menemukan jati diri bisnisnya di asuransi.
Dengan prinsip learning by doing, Ida membuktikan profesinya sangat layak diperhitungkan. Bahkan patut jadi kebanggaan. Ida berhasil menjual premi rata-rata per tahun di atas Rp500 juta. Kini ia memiliki lebih dari 600 nasabah. Khusus tahun 2001 lalu, total penghasilan dari komisi tahun berjalan, komisi tahun sebelumnya, berbagai bonus, dan renewel business, bisa mencapai di atas Rp500 juta!
Bukan itu saja! Kepiawaian di bidang asuransi –yang ditimbanya dari pengalaman– telah melahirkan lembaga konsultan marketing bernama Ida Kuraeny & Associates yang berkantor di Lt.37 Wisma GKBI, Jl. Jend. Sudirman, Jakarta Pusat. Sebuah lembaga yang memberikan pelayanan public speaking bidang asuransi, marketing, customer service, dan management skills. Dengan lembaga itu, Ida ingin supaya ketika orang bicara asuransi, mereka ingat namanya. Tentu saja impian itu makin menjadi kenyataan setelah Ida berhasil menyelesaikan bukunya tentang seluk beluk profesi agen asuransi yang berjudul Membuat Impian Menjadi Kenyataan (Gramedia, 2003).
“Saya dulu sering perhatikan orang-orang di sekeliling Sudirman, di mal-mal, di café-café. Keren-keren bajunya…bawa mobil mewah. Kapan ya bisa seperti itu? Saya bayangkan kalau bisa seperti mereka. Itu memotivasi diri saya,” kenang Ida. Dan mimpi ibu dari Oto, Ony, Sela, dan Ridho ini kesampaian sudah. Berikut petikan wawancara Edy Zaqeus dengan Ida Kuraeny di kantornya di Jakarta Selatan.
Bagaimana awal ceritanya Anda bisa nyemplung di bisnis asuransi?
Tidak ada seorang agen pun, yang awalnya bercita-cita menjadi agen asuransi. Nggak ada. Accident. Kita tahu kan profesi agen asuransi itu paling tidak diminati, paling ditakuti, atau pilihan terakhir. Bahkan keluarga awalnya sama sekali tidak mendukung. Padahal, menjual asuransi yang kita dekati kan keluarga dulu, seperti di MLM. Dengan kondisi seperti itu saya tertantang. Tapi karena waktu itu leader saya kurang memperhatikan, tahun 1991 saya hanya bertahan tiga bulan di asuransi Universal Lifeindo dari Philipina dan partner Indonesianya dari Gunung Sewu Kencana. Tahun 1992 mereka diakuisisi New York Life International, saya kembali masuk tahun 1994. Tahun itu keputusan saya bulat. Dari situlah saya mulai menjadi agen.
Apa yang dilakukan seorang agen asuransi?
Sebenarnya sama dengan MLM. Kalau MLM produk dalam bentuk barang, kalau saya bentuknya kertas jaminan masa depan. Sifatnya abstrak. Butuh kemampuan luar biasa untuk meyakinkan mereka supaya membeli produk asuransi. Seperti di industri MLM, pertama kita harus mengumpulkan bank nama. Investasi atau aset terbesar kita ada di bank nama itu. Di asuransi minimal kita punya 100 bank nama. Dari 100 nama itu kita kembangkan, diklasifikasikan mana yang potensial membeli asuransi.
Dulu saya berawal dari pasar-pasar kecil. Karena saya bukan anak orang kaya. Mau nawari direktur, ya saat itu nggak punya nyali. Yang membuat saya surprais sampai hari ini adalah, dari pasar yang kecil-kecil, saya berubah jadi (mempunyai) pasar besar. Orang-orang di perusahaan mengenal saya sebagai agen kelas teri. Tapi kecil-kecil beratnya bisa satu ton ha ha ha… Saya bisa menjual 100 polis dalam satu tahun, secara konsisten tiga tahun berturut-turut.
Bagaimana dari agen kelas teri jadi ke pangsa pasar yang besar?
Karena saya merawat after sales service. Komisi di asuransi besar, kan? Kita tahu komisinya 30%, ditambah bonus-bonus kalau kita mencapai level tertentu. Dengan komisi tadi saya alokasikan sebagian untuk biaya servis. Hal itu jarang dilakukan oleh agen lain. Saya punya moto, masa depan saya merupakan investasi saya hari ini. Sebagai agen kita tidak punya bos, bisnis sendiri, wirausaha mandiri. Kita itu entrepreneur. Berarti harus punya modal. Modalnya apa? Yaitu tadi bagaimana maintenance klien saya after sales service. Contohnya kartu ucapan edisi khusus untuk para nasabah. Saya juga kerjasama dengan tukang bunga, tukang kue, tukang balon untuk saya kirim kepada mereka.
Mengapa nyemplung di asuransi?
Waktu saya keluar, suami saya tetap menekuni asuransi. Setelah di resepsionis saya kan di marketing, deal dengan orang-orang lain. Sehari punya target ketemu delapan customer, delapan tempat. Lalu suami menyarankan, ‘Dengan ketemu delapan orang sehari, kenapa tidak di asuransi? Uangnya lebih gedhe?’. Di marketing saya dapat semua fasilitas. Hanya saja orang umumnya agak sulit melepaskan kenyamanan kan? Tapi dengan kepercayaan ketemu jumlah orang yang sama, uang akan lebih besar, saya bilang saya mau dapat yang lebih besar lagi!
Lalu saya mulai di asuransi dari nol. Saya lebih memilih ke professional agent. Saya tidak memilih di manajemen, karena kalau di manajemen berarti saya employee tidak beda dengan yang dulu. Sebagai professional agent pendapatannya tidak terbatas. Yang saya lihat fleksibel waktu dan fleksibel income.
Bagaimana cara memprospek orang-orang atas?
Menghadapi prospek seorang direktur pun, saya harus punya posisi selevel dengan dia. Dalam arti income ya…. Kalau kepintaran mungkin dia lebih pintar di bidangnya. Tapi bidang asuransi, sayalah ahlinya. Itu harus diciptakan! Supaya calon prospek melihat, ‘Oh ya, saya nggak salah orang nih’. Self confidence kita harus dibentuk dengan bantuan performance tentunya, skill, attitude, dan pola pikir. Dia akan melihat apakah ‘Orang ini layak nggak berbisnis dengan saya’.
Pada dasarnya kita mencari kesamaan, kan? Baru kita bisa in di situ. Sekarang saya lebih banyak ke pengusaha. Berarti pola pikir saya harus sama dengan seorang pengusaha. Misalnya, apa saja sih yang mereka pikirkan? Bicara masa depan, masalah karyawan. Saya sekarang lebih suka jual pada owner perusahaan. Sekali kerja saya bisa dapat polis di atas sepuluh. Yang saya incar karyawannya, makanya saya harus berpola pikir sebagai owner. Begitu ketemu bikin janji, kita nyambung.
Makanya tergantung pasarnya. Bahasa saya menyesuaikan. Jadi mereka bisa melihat ‘Eh, gaya bahasanya sama dengan saya’. Saya terbiasa menyamakan logat dengan calon prospek. Saya ketemu orang Jawa saya ikuti logatnya, ketemu orang Sunda saya bahasa Sunda. Senang mereka. Itu bermanfaat sekali karena suasana pembicaraan jadi alami. Jadi saya harus menyamakan kedudukan saya dulu.
Dari mana Anda belajar teknik-teknik seperti itu?
Learning by doing. Dengan saya sering ketemu orang, lama kelamaan saya tahu karakter orang. Belajar dengan sendirinya. Baca juga, itu informasi paling murah dan cepat. Saya bukan lulusan S-1, S-2, MBA bukan…. SMA saja. Mereka yang punya titel lebih tinggi itu pasti lebih pintar dari saya seharusnya.
Ketrampilan-ketrampilan dasar apa yang mesti dimiliki seorang agen asuransi?
Sederhana. Etiket nomor satu, karena itu yang menjembatani kita bisa bicara lebih dalam. Kalau kesan pertama tidak mengenakkan, apa akan terjadi pertemuan kedua? Etiket adalah tata krama, tata bahasa, intonasi suara, gaya bahasa, itu mempengaruhi. Gaya bahasa menunjukkan intelektualitas kita, kan? Gaya bahasa dan kepandaian berkomunikasi menentukan.
Harus punya ketrampilan membaca situasi. Saya harus bisa analisis. Dari suara pun bisa. Performance. Kita harus bisa menempatkan diri dengan siapa yang akan kita temui. Saya harus menyesuaikan. Kita juga perlu tahu asuransi dipandang dari sudut agama, dari segi hukum, segi ekonomi, sosial, psikologi. Saya ndak harus sekolah dulu di UI ambil semua jurusan ha ha ha… Ndak mungkin, kan? Belajar sambil jalan. Baca sambil ketemu orang dan menganalisa.
Saat bertemu prospek pertama kali, biasanya apa yang ditawarkan?
Awalnya –saat tidak berhasil—saya langsung tabrak lari. Artinya, begitu dapat janji ketemu, saya datang dengan proposal. Ndak peduli perasaan cocok apa ndak, main tembak aja, Rp100 juta uang pertanggungan bayar premi Rp12 juta. Orang shock! Jadi kegagalan itu saya analisis. Saya harus tahu dulu masa depan dia. Saya bertindak sebagai seorang konsultan. Bukan sebagai penjual asuransi. Konsultan memberikan solusi, bukan memberi produk langsung. Jadi fact finding dulu, orang ini ke mana arah hidupnya. Harus banyak bertanya dan banyak mendengar.
Di situ kuncinya. Kita akan bisa mengarahkan. Bagaimana tekniknya, ya banyak belajar dan bertemu orang setiap hari. Di perusahaan kami, standar ketemu dua orang sehari, saya lebihkan empat. Rasionya ketemu sepuluh, baru satu closing (yang mau beli: red). Itu bagi yang baru bergabung. Seperti saya sekarang, sekali ketemu bisa closing dengan uang pertanggungan cukup besar.
Saat bertemu prospek, jangan bersikap seperti hakim yang mendakwa kliennya. Mereka tidak akan senang. Kuncinya, saat ingin dapat informasi, berilah informasi tentang diri kita dulu. Kreatifitas harus tinggi. Insting dan ketajaman harus bisa menyesuaikan dengan situasi.
Pernah mengalami kesulitan dalam memrospek?
Pada saat bertemu dengan orang yang sudah kaya, sulit sekali mengambil uang mereka. Sulit meyakinkan bahwa dia tetap butuh asuransi. Duitnya nggak bakalan habis, bagaimana? Dari segi agama sudah ndak mempan, ekonomi apa lagi? Lalu dari mana lagi? Saya singgung dari segi egonya, psikologinya. Saya sangat percaya bisnis dia tidak habis untuk tujuh turunan. Tapi saya juga yakin dalam kondisi sudah di puncak tertinggi, dia butuh pengakuan secara sosial-ekonomi. Butuh aktualisasi diri, masuk ke lingkungan badan sosial, ke yayasan-yayasan. Kan banyak yayasan-yayasan sosial sebagai bentuk aktualisasi diri, supaya seseorang dihargai masyarakat luas? Nah, saya masuk dari situ. Mereka bisa memberi dana abadi kepada yayasan. Kita dibenarkan memberikan santunan kematian dengan ahli waris berbentuk yayasan.
Pengalaman “menyedihkan” ada?
Ada! Saya dimarahin. Kalau Anda pernah ditolak asuransi (karena hasil medical check-up: red), masuk ke asuransi lain lebih sulit. Boleh dibilang 90% tidak diterima lagi. Kecuali, asuransi itu main-main, atau ada data-data yang disembunyikan. Pada waktu ditolak, tidak semua orang siap. Akhirnya nasabah tadi marah.
Bagaimana menaklukkan prospek yang sudah ikut asuransi atau banyak alasan penolakan?
Diskusikan kembali, karena asuransi banyak jenisnya. “Kalau Bapak sudah beli, saya malah senang hati. Berarti saya tidak ketemu orang yang salah!” Kenapa? Karena mereka jelas lebih mengerti dong. Saya tidak perlu menerangkan dari awal sekali. “Saya sudah banyak lho asuransinya..” Tidak selalu, kalau prospek ada masalah, langsung saya jawab. Capek kalau begitu. Saya analisis dulu, apakah ini benar-benar masalah, objections, atau sekedar kepura-puraan untuk menolak. Saya selalu bilang, “Kalau saya bisa menjawab semua keberatan Bapak, Bapak mau beli asuransi dari saya…?” Saya tantang begitu.
Perbedaanya orang Indonesia dengan orang Amerika kalau beli asuransi; orang Indonesia…”Ida, berapa nanti yang bakal gue terima? Duit gue bakal berapa 15 tahun kemudian?” Kalau orang Amerika, yang sudah mengenal asuransi..”Nanti yang akan diterima keluargaku berapa?” Beda, kan? Satu buat ‘keluarga’, satu buat ‘saya’… ego, kan?
Solusinya apa?
Ajaklah prospek diskusi dulu. Tidak ada ikatan membeli, kan? Tidak ada maksud menggurui. Kalau agen kreatif, dia bisa mengubah prospek yang semula sekadar ingin tahu, berubah jadi pembeli. Tugas kita hanya menjelaskan. Di asuransi jiwa itu yang diasuransikan adalah nilai ekonomi kita pengertiannya, bukan jiwanya. Kalau meninggal, tidak bekerja, income hilang dong. Jadi yang diasuransikan incomenya, bukan jiwanya. Saya harus tahu financial commitment prospek. Saya harus tahu income dan pengeluarannya, karena saya seorang konsultan, bukan penjual. Kebanyakan agen kita menjual secara umum saja. Nasabah beli Rp.1-10 juta sudah cukup. Dianggap sudah besar oleh seorang agen. Ini kejadian, saya gali lagi nasabah itu, dia bisa beli Rp100 juta!
Berapa waktu Anda alokasikan untuk setiap prospek?
Tergantung, ya. Di industri kita pada dasarnya kalau ada buying signal (tanda-tanda membeli) baru akan terjadi penjualan. Tanda-tanda itu harus kita ciptakan dulu. Itu mempercepat proses. Buying signal itu antara lain begini; ”Ya, udah deh, kamu datang dulu ke tempatku, jelaskan 15 menit saja!” Kedua, dia banyak bertanya detailnya. “Kalau ada perang bagaimana?”, “Kalau saya pindah ke luar negeri bagaimana?” Kita harus ciptakan dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengarah ke buying signal.
Pengalaman paling menyenangkan di bisnis ini?
Wow….kalau dapat cash besar! Satu keluarga beli Rp600 juta premi dalam waktu dua tahun. Padahal waktu itu rekor tertingginya di tahun 1998, sekali beli adalah Rp250 juta. Jadi boleh dibilang Allah mengijinkan… Pada waktu krisis penjualan saya meningkat. Tahun 1998 itu saya yang pertama memecahkan rekor Rp1 milyar untuk perusahaan saya. Rekor perusahaan sejak 1992 baru terpecahkan tahun 1998 oleh saya. Secara nasional itu rekor kedua, karena yang pertama dipecahkan oleh AIA Rp1 milyar di tahun 1997. Saya baru bisa pecahkan tahun 1998. Saya the Best Agent tahun 1999 di perusahaan. Sekarang untuk the Best Agent harus menjual Rp2,5 milyar setahun.
Apakah Anda punya target-target dalam bisnis ini?
Tahun 2000 saya dapat penghargaan sebagai Top Agent Award kategori Best Senior Productive Producer (Peringkat I) dari DAI. Saya berprinsip harus punya peringkat di DAI. Itu prestisius nasional. Tapi yang lebih prestisius lagi adalah anggota MDRT yang anggotanya para agen seluruh dunia. Ada tiga katagori MDRT; biasa, Court of Table, dan Top of the Table. Untuk jadi Top of the Table, dia harus punya kualifikasi penjualan enam kalinya MDRT biasa. Untuk MDRT biasa tahun 2001, dia harus menjual Rp439 juta premi. Saya sudah lima kali berturut-turut kualifikasi MDRT. Di Indonesia (sampai 2002: red), kurang dari delapan orang dengan kualifikasi MDRT lima kali berturut-turut. Tahun 2001 adalah MDRT keenam saya berturut-turut. Mimpi saya adalah menjadi MDRT seumur hidup. Kedua, bisa sepuluh kali berturut-turut. Enam kali sudah, itu rekor di Indonesia (data terakhir hingga 2004, Ida sudah meraih kualifikasi MDRT 10 kali: red).
Mimpi lainnya?
Mimpi lain saya menjadi (public) speaker. Saya sekarang sudah punya accociate sendiri untuk mengeducate para agen. Visi saya, dengan menjadi agen profesional, kita juga bisa punya bisnis sendiri. Ssalah satunya adalah sebagai public speaker. Secara finansial, saya tidak ingin punya masalah keuangan. Alhamdulilah, kami sudah lewati masa-masa kritis tersebut. Saya juga ingin membuktikan kepada masyarakat, bahwa profesi agen asuransi itu bukan profesi yang dipandang sebelah mata. Saya bangga sebagai agen profesional, karena saya bisa diterima di kalangan mana pun. Kalau kita profesional, hasil jerih payah kita itu ada harganya.
Saran saya kepada agen baru adalah disiplin. Milikilah disiplin kerja yang tinggi, karena pekerjaan kita hari ini tidak langsung berbuah. Kalau mandeg, maka untuk memulai usaha lagi sulit. Disiplin diri, membangun performance diri, membangun motivasi diri, dan tularkan antusias kita kepada mereka, yang selama ini belum mengerti asuransi. Belajarlah pada mereka yang sudah sukses.*
Tips Memilih Perusahaan Asuransi Jiwa
Dalam memilih perusahaan Asuransi Jiwa, salah satunya adalah dengan menilai reputasinya. Reputasi tersebut bisa kita nilai dari tiga hal, yaitu :
Reputasi Pelayanan
Reputasi Keuangan
Reputasi Pemilik dan Manajemen
Reputasi Pelayanan
Cara menilai reputasi pelayanan, salah satu caranya adalah dengan mendatangi sendiri kantor Perusahaan Asuransi tersebut. Atau minimal Anda tahu di mana kantornya berada. Nilailah pelayanan yang diberikan ketika Anda mendatangi perusahaan itu. Dengan mendatangi sendiri perusahan tersebut maka Anda dapat mengetahui kualitas pelayanan seperti apa yang akan Anda temui ketika Anda harus datang sendiri kelak, misalnya, dalam mengurus uang pertanggungan Anda. Ini bisa dilakukan apabila perusahaan Asuransi Jiwa tersebut menganut sistem bancassurance. Contoh : AxaMandiri, Asuransi Cigna, dan lain-lain.
Apabila perusahaan Asuransi Jiwa tersebut menggunakan sistem agency, pilihlah agen asuransi yang benar-benar memiliki atitutude yang baik, dapat menjelaskan produk dengan sebaik-baiknya demi kepentingan nasabah (bukan kepentingan dirinya, seperti atas dasar demi mendapatkan komisi yang lebih besar), memiliki emosi yang kuat pada saat menjelaskan produk yang dijualnya. Contoh : Prudential, Astra CMG, Manulife, dan lain-lain.
Reputasi Keuangan
Menilai Reputasi Keuangan adalah dengan menilai Laporan Keuangan perusahaan tersebut yang bisa Anda minta atau Anda lihat di media cetak maupun di media elektronik. Nilailah seberapa besar kekuatan modal perusahaan tersebut dibandingkan dengan perusahaan yang lain. Nilai juga seberapa bagusnya arus kas dari perusahaan tersebut. Dalam dunia asuransi, dikenal istilah RBC atau Risk Based Capital. Ini adalah sebuah cara untuk menilai kesehatan perusahaan asuransi Anda.
Pilihlah Perusahaan Asuransi yang memiliki RBC di atas 120 persen. Kalau Anda bingung apa itu RBC, cukup tanyakan saja berapa RBC perusahaan asuransi Anda kepada agen asuransi Anda atau klik di sini. Kalau agak lebih sedikit dari 120 persen, artinya lumayan, tapi mesti pikir-pikir lagi. Kurang dari itu, lebih baik cari yang lain. Saran saya, plilihlah perusahaan asuransi yang memiliki RBC jauh di atas 120%.
Reputasi Pemilik dan Manajemen
Perhatikan juga siapa pemilik mayoritas dan siapa pengelola dari Perusahaan Asuransi Anda. Lihat apakah mereka memiliki reputasi yang tercela di masyarakat. Memang, terkadang hal ini mungkin terlihat agak subyektif, tetapi tidak ada salahnya kalau Anda mengenal siapa pemilik dan siapa pengelola perusahaan asuransi Anda. Kalau mereka memiliki reputasi yang tercela, hindari dengan segera.
Tips lainnya, kalau Anda memilih perusahaan Asuransi Jiwa joint venture, Anda dapat melihat bagaimana reputasi dari perusahaan asing tersebut di berbagai negara lain. Agen asuransi Anda biasanya memiliki kumpulan berita tentang bagaimana reputasi perusahaan asing tersebut di sejumlah negara lain.
Dan jika memilih perusahaan Asuransi Jiwa lokal (bukan joint venture), maka pilihlah perusahaan yang memiliki reputasi “tahan banting”, yaitu perusahaan yang cukup tua dan sudah pernah melalui berbagai macam krisis. Kalau perusahaan Asuransi Jiwa tersebut merupakan bagian dari sebuah grup usaha besar (konglomerat), maka coba lihat juga bagaimana kinerja dari grup usaha besar tersebut. Ini karena kadang-kadang, meruginya salah satu perusahaan dalam grup usaha besar bisa saling mempengaruhi keuntungan dan kerugian dari perusahaan lainnya yang terdapat dalam grup usaha tersebut.
Kesimpulan
Dari tips-tips sederhana di atas dapat membantu Anda mengurangi risiko tidak dibayarnya klaim Anda oleh si perusahaan asuransi. Yang paling penting, jangan lantas Anda jadi takut untuk ikut asuransi.
Disadur sebagian dari www.perencanaankeuangan.com
Reputasi Pelayanan
Reputasi Keuangan
Reputasi Pemilik dan Manajemen
Reputasi Pelayanan
Cara menilai reputasi pelayanan, salah satu caranya adalah dengan mendatangi sendiri kantor Perusahaan Asuransi tersebut. Atau minimal Anda tahu di mana kantornya berada. Nilailah pelayanan yang diberikan ketika Anda mendatangi perusahaan itu. Dengan mendatangi sendiri perusahan tersebut maka Anda dapat mengetahui kualitas pelayanan seperti apa yang akan Anda temui ketika Anda harus datang sendiri kelak, misalnya, dalam mengurus uang pertanggungan Anda. Ini bisa dilakukan apabila perusahaan Asuransi Jiwa tersebut menganut sistem bancassurance. Contoh : AxaMandiri, Asuransi Cigna, dan lain-lain.
Apabila perusahaan Asuransi Jiwa tersebut menggunakan sistem agency, pilihlah agen asuransi yang benar-benar memiliki atitutude yang baik, dapat menjelaskan produk dengan sebaik-baiknya demi kepentingan nasabah (bukan kepentingan dirinya, seperti atas dasar demi mendapatkan komisi yang lebih besar), memiliki emosi yang kuat pada saat menjelaskan produk yang dijualnya. Contoh : Prudential, Astra CMG, Manulife, dan lain-lain.
Reputasi Keuangan
Menilai Reputasi Keuangan adalah dengan menilai Laporan Keuangan perusahaan tersebut yang bisa Anda minta atau Anda lihat di media cetak maupun di media elektronik. Nilailah seberapa besar kekuatan modal perusahaan tersebut dibandingkan dengan perusahaan yang lain. Nilai juga seberapa bagusnya arus kas dari perusahaan tersebut. Dalam dunia asuransi, dikenal istilah RBC atau Risk Based Capital. Ini adalah sebuah cara untuk menilai kesehatan perusahaan asuransi Anda.
Pilihlah Perusahaan Asuransi yang memiliki RBC di atas 120 persen. Kalau Anda bingung apa itu RBC, cukup tanyakan saja berapa RBC perusahaan asuransi Anda kepada agen asuransi Anda atau klik di sini. Kalau agak lebih sedikit dari 120 persen, artinya lumayan, tapi mesti pikir-pikir lagi. Kurang dari itu, lebih baik cari yang lain. Saran saya, plilihlah perusahaan asuransi yang memiliki RBC jauh di atas 120%.
Reputasi Pemilik dan Manajemen
Perhatikan juga siapa pemilik mayoritas dan siapa pengelola dari Perusahaan Asuransi Anda. Lihat apakah mereka memiliki reputasi yang tercela di masyarakat. Memang, terkadang hal ini mungkin terlihat agak subyektif, tetapi tidak ada salahnya kalau Anda mengenal siapa pemilik dan siapa pengelola perusahaan asuransi Anda. Kalau mereka memiliki reputasi yang tercela, hindari dengan segera.
Tips lainnya, kalau Anda memilih perusahaan Asuransi Jiwa joint venture, Anda dapat melihat bagaimana reputasi dari perusahaan asing tersebut di berbagai negara lain. Agen asuransi Anda biasanya memiliki kumpulan berita tentang bagaimana reputasi perusahaan asing tersebut di sejumlah negara lain.
Dan jika memilih perusahaan Asuransi Jiwa lokal (bukan joint venture), maka pilihlah perusahaan yang memiliki reputasi “tahan banting”, yaitu perusahaan yang cukup tua dan sudah pernah melalui berbagai macam krisis. Kalau perusahaan Asuransi Jiwa tersebut merupakan bagian dari sebuah grup usaha besar (konglomerat), maka coba lihat juga bagaimana kinerja dari grup usaha besar tersebut. Ini karena kadang-kadang, meruginya salah satu perusahaan dalam grup usaha besar bisa saling mempengaruhi keuntungan dan kerugian dari perusahaan lainnya yang terdapat dalam grup usaha tersebut.
Kesimpulan
Dari tips-tips sederhana di atas dapat membantu Anda mengurangi risiko tidak dibayarnya klaim Anda oleh si perusahaan asuransi. Yang paling penting, jangan lantas Anda jadi takut untuk ikut asuransi.
Disadur sebagian dari www.perencanaankeuangan.com
Subscribe to:
Posts (Atom)