detikFinance
Jakarta - Bagaimana strategi investasi di tengah kondisi krisis terkini? Investor Indonesia, layaknya investor Asia lainnya, ternyata masih cukup konservatif. Mereka umumnya tak mau mengambil investasi yang terlalu berisiko.
Apa saja pilihan investasi orang Indonesia? Menurut survei dari ING Securities Indonesia, investor Indonesia selama triwulan III-2009 ternyata masih memilik investasi dalam bentuk uang tunai (95%) dan emas (76%).
Sementara untuk periode triwulan IV-2008, hanya sedikit yang ingin berinvestasi dalam saham lokal. Bagaimana sisanya?
Sebanyak 37% investor Indonesia mengatakan berminat untuk investasi pada uang tunai pada triwulan IV-2008
14% berminat untuk investasi sektor properti
29% berniat investasi emas
10% akan berinvestasi pada dana pensiun.
"Kami menganjurkan investor untuk tetap mempertahankan rencana investasi jangka panjang mereka ditengah gelombang pasar yang kita saksikan sekarang ini," kata Alan Harden, CEO ING Investment Management Asia/Pasifik dalam siaran persnya, Rabu (15/10/2008).
Ia mengaku tetap optimistis dengan kondisi ekonomi dan keuangan Asia, dan dalam jangka panjang pasar-pasar di Asia masih akan memiliki kinerja yang lebih baik ketimbang AS ataupun Eropa.
Indeks Sentimen Investor
Sementara survei triwulanan ING menunjukkan, indeks sentimen investor di Asia turun hingga 39% ke posisi 86 di triwulan III-2008, dibandingkan posisi 141 di triwulan III-2008. Secara quarter to quarter, indeks ini juga turun 21%.
Untuk investor Indonesia, indeks juga menunjukkan penurunan hingga 7,5% dalam 12 bulan terakhir. Padahal pada triwulan III-2008, indeks sentimen investor Indonesia sempat naik 15% menjadi 123 pada triwulan III-2008.
Selain itu, mayoritas investor Indonesia juga masih khawatir terhadap inflasi, meski cukup banyak yang berpendapat angkanya akan turun pada triwulan IV-2008.
Data juga menunjukkan bahwa masalah kelangkaan likuiditas dan perlambatan ekonomi AS mulai mempengaruhi sentimen investor.
Sebanyak 54% keputusan investasi investor Indonesia mulai terpengaruh oleh ketatnya likuiditas pada triwulan III.
51% keputusan investasi lumayan terpengaruh oleh situasi ekonomi AS pada triwulan III.
"Sampai batasan tertentu, ekonomi domestik telah melindungi Indonesia dari dampak langsung kondisi global dan ekonomi domestik tertopang oleh kuatnya harga-harga komoditas sepanjang tahun ini," ujar Robert Scholten, Presdir ING Securities Indonesia.
Namun menurutnya, semakin bergejolaknya situasi dai AS, Eropa serta penurunan drastis di beberapa pasar Asia, menyebabkan sentimen investor lokal mulai menurun. Hal itu terlihat dari bergejolaknya pasar Indonesia 2 pekan belakangan ini sebagai reaksi pasar global.
"Memasuki triwulan terakhir 2008, kami melihat sentimen investor Indonesia akan terus menurun, seperti negara-negara Asia lainnya, investor Indonesia akan lebih memilik berinvestasi pada uang tunai, simpanan dan emas meskipun adanya potensi peningkatan di pasar saham," urai Scholten.
Wednesday, October 15, 2008
Thursday, October 9, 2008
Rugi Ratusan Juta, Lega Bisa Istirahatkan Jantung

Mereka yang Degdegan Saat Bursa Terjun Bebas
Harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) kemarin rontok terkena dampak lanjutan krisis finansial di Amerika. Akibatnya, otoritas bursa terpaksa menghentikan perdagangan. Inilah potret beberapa investor yang sport jantung sejak pagi.
AGUS WIRAWAN, Jakarta
DUA laptop milik Ramson Siagian sejak pagi kemarin terus hidup. Lewat peranti canggih itu mata anggota DPR tersebut hampir tak berkedip memantau pergerakan harga saham di BEI.
Ramson adalah satu dari sedikit orang di Indonesia yang pemain aktif di pasar modal. Tahun lalu, bersamaan dengan booming bursa di tanah air, dia mendapat keuntungan lumayan besar. Besarnya setara gaji setahun plus tunjangan yang dia terima selama satu tahun sebagai wakil rakyat di Senayan.
Namun, pada Rabu "kelabu" kemarin, peruntungan itu berubah 180 derajat. "Semua investor menghadapi situasi yang kacau balau, karena harga semua saham anjlok," ujarnya.
Anggota Komisi XI DPR itu enggan menyebut berapa persis kerugian yang diderita akibat gonjang-ganjing di BEI beberapa hari terakhir. Alasannya, seorang investor tidak akan pernah mau mengutarakan kerugian yang dia alami. "Itu tidak etis. Yang jelas, kalau untungnya saja bisa ratusan juta, kerugiannya juga bisa segitu," lanjutnya.
Menurut Ramson, keputusan BEI menghentikan perdagangan saham pukul 11.08 kemarin merupakan pilihan terbaik. Meski kondisi pasar menjadi stagnan, hal itu cukup membantu untuk tidak makin merugikan investor. "Setidaknya kita bisa tidur nyenyak. Istirahatkan jantung dulu, sebelum pasar kembali dibuka. Ambil napas dululah," ungkapnya,
Dalam situasi seperti itu, pria yang selalu membawa laptop -termasuk saat bermobil- untuk memantau pergerakan harga saham itu mengakui sebagian besar investor sudah mengalami potential loss.
"Kalau sahamnya belum dijual tapi posisinya sudah rugi, ya berarti potential loss. Tapi, ada juga yang sudah berani jual rugi dalam kondisi ini," katanya.
Sebagai investor, dia harus berani menanggung risiko apa pun, termasuk merugi dalam jumlah sangat besar. Itu sudah menjadi risiko semua orang yang bermain saham. "Bisa saja saat ini kekayaan melimpah, tapi besok tiba-tiba bangkrut karena harga semua saham turun drastis. Kalau seperti sekarang ini, mana ada (investor) yang tidak rugi, " tuturnya.
Kunci bermain saham, kata dia, harus cepat mengambil keputusan untuk buy (membeli) atau sell (menjual). Meski begitu, ketenangan berpikir dan kesabaran juga harus tetap ada. Karena itu, dia menyediakan dua laptop untuk mendukung profesi "sambilan"-nya tersebut. "Pas harga naik turun nggak boleh lepas dari laptop. Kalau satunya mati, bisa ganti laptop satunya lagi," tambahnya.
Ramson berharap kondisi pasar kembali membaik, setidaknya sampai harga saham yang dimiliki mencapai titik impas. "Kita nggak lagi mikir keuntungan kalau sudah begini. Yang penting harganya balik saja," harapnya.
Meski begitu, dia yakin kondisi pasar saham kembali normal seperti sedia kala. Sebab, fundamental ekonomi dan emiten yang ada sekarang ini cukup baik. Ini berbeda dengan kondisi pada krisis ekonomi 1998. "Dulu (1998) itu pas banyak utang (dalam valuta asing) perusahaan yang jatuh tempo. Sekarang emiten-emiten itu kan sehat, jadi saya yakin pasti harganya bisa kembali," katanya optimistis.
Menurut dia, ketidakstabilan pasar saham Indonesia saat ini diakibatkan masih besarnya porsi dana asing yang menguasai pasar. Saat dampak krisis keuangan AS meluas, banyak investor asing dari Eropa, Jepang, atau Asia lainnya yang menarik dana. "Yang kecil lalu ikut-ikutan," jelasnya.
Investor domestik lainnya, Airlangga Hartarto, juga mengakui bahwa saat ini banyak investor yang rugi, terutama investor individu. Tapi, investor institusi masih banyak yang bertahan. Ini karena investor individu tidak banyak memiliki pengetahuan soal saham. "Banyak yang panik kemudian ikut-ikutan menarik sahamnya," ungkapnya.
Airlangga Hartarto yang juga ketua Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) itu menilai kepanikan itulah yang menyebabkan investor menderita kerugian luar biasa.
"Ada yang berani jual meski ruginya banyak sekali. Ini yang menyebabkan bursa jatuh. Kalau menurut saya, nggak usah disebut angka-angka (kerugian) itu," cetusnya.
Airlangga berharap penghentian perdagangan pasar modal berlangsung hingga Jumat. Artinya, perdagangan baru dimulai lagi Senin depan. Sebab, jika pemerintah tidak memiliki formula yang jitu untuk mengatasi, percuma perdagangan bursa kembali dibuka. "Biar saja di-suspend lama, yang penting investor selamat. Bukan tambah hancur," jelasnya.
Seperti Airlangga, imbas krisis keuangan Amerika Serikat yang merontokkkan bursa dunia dan Indonesia itu juga berimbas ke kehidupan M.A. Aristyawan. Investor yang beberapa tahun belakangan aktif mengadu peruntungan di pasar modal itu terpaksa gigit jari dalam empat bulan terakhir. Indeks Harga Saham Gabungan kemarin ambrol ke level 1.451, dengan hanya membukukan nilai transaksi total Rp 952,16 juta.
Aristyawan memiliki sekitar 20 saham yang tersebar di berbagai sektor seperti perbankan, komoditas, properti, hingga infrastruktur. Kendati demikian, dia enggan menyebutkan besaran dana yang dihabiskan untuk membeli saham.
"Saya tidak mau cut loss (menjual sekarang untuk menghindari kerugian lebih besar). Daripada saya jual rugi, lebih baik saya tidak bertransaksi dulu. Sudah sekitar empat bulan saya pasif di pasar modal," ujar pria yang sehari-hari berprofesi sebagai dokter itu. (el)
Hari Ini Bursa Efek Indonesia Masih Tutup
JAKARTA - Pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) kian mengkhawatirkan. Kemarin (8/10), indeks harga saham gabungan (IHSG) terperosok makin dalam, sehingga memaksa BEI menghentikan perdagangan mulai pukul 11.08 JATS (Jakarta Automated Trading System).
Untuk kali pertama sepanjang sejarah, transaksi dihentikan di tengah jalan karena penurunan harga dinilai tidak wajar. Saat disuspen, IHSG anjlok 168,52 poin (10,38 persen) ke titik 1.451,669 dengan nilai transaksi hanya Rp 952,165 miliar. Itu merupakan indeks terendah sejak September 2006.
Dirut BEI Erry Firmansyah menyatakan, penurunan harga saham sudah sangat irasional. Otoritas bursa akan terus memeriksa detail transaksi yang terjadi sebelum perdagangan dihentikan. ''Tapi, masih belum bisa dipastikan apakah ada transaksi ilegal,'' katanya di Jakarta kemarin (8/10).
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Miranda Swaray Goeltom menuturkan, dalam kondisi seperti saat ini, otoritas dan regulator tidak bisa membiarkan mekanisme pasar mengatur harga saham. ''Jadi, harus dihentikan sementara untuk memberi kesempatan pasar mempertimbangkan keputusan secara rasional,'' ungkapnya.
Dalam rapat di kantor Ditjen Pajak hingga tadi malam, transaksi bursa hari ini diputuskan tetap dihentikan. Rapat yang dihadiri pejabat Bapepam-LK dan BEI itu, dipimpin Dirjen Pajak Darmin Nasution karena kepala Bapepam-LK Fuad Rahmany masih di luar negeri. Darmin sebelumnya pernah menjabat kepala Bapepam-LK. ''Besok bursa masih disuspen,'' terang Direktur BEI Guntur Pasaribu dalam pesan singkatnya kepada Jawa Pos dini hari tadi.
Sementara itu, rapat kabinet menteri ekonomi dan Dirut BUMN di Kantor Presiden tadi malam memutuskan mengumpulkan dana dari 14 BUMN untuk melakukan buyback saham-saham pemerintah di BEI sebatas kemampuan finansial mereka. Pemerintah hari ini menggelar rapat kabinet untuk memutuskan saham-saham yang dibeli dari bursa. ''Daftar saham yang akan dibeli sudah diinventarisasi, tapi nilai dana yang akan dimasukkan ke bursa masih menunggu rapat besok (hari ini),'' ujar Ketua Umum Kadin M.S. Hidayat.
Rapat yang dimulai pukul 22.30 tersebut dihadiri Menteri Keuangan ad interim Sofyan Djalil, Mensesneg Hatta Rajasa, Menseskab Sudi Silalahi, dan Deputi Gubernur BI Miranda Swaray Gultom. Hadir pula sejumlah Dirut BUMN, di antaranya Wadirut PLN Rudiantara, Dirut Pertamina Ari Soemarno, dan Dirut BRI Sofyan Basir.
Harga saham-saham unggulan kemarin memang merosot cukup tajam, sehingga terkena auto rejection. Saham PT Indosat Tbk (ISAT) terjun bebas Rp 1.200 atau 23,3 persen menjadi Rp 3.950. Kemudian, PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) drop Rp 1.750 (25 persen) menjadi Rp 5.250. Lalu, PT Astra Internasional Tbk (ASII) anjlok Rp 3.200 (20 persen) menjadi Rp 12.800.
Investor domestik panik karena asing sudah melepas aset-aset rupiahnya untuk membeli dolar AS. Terlebih, ada rekomendasi negatif dari JP Morgan Chase & Co, salah satu bank terbesar AS, untuk menjauhi surat utang Indonesia. Itu membuat makin panik. ''Yang net sell justru lebih banyak investor domestik,'' ujar analis PT Optima Securities Ikhsan Binarto.
Analis PT Bhakti Capital Budi Ruseno mengungkapkan, pasar domestik saat ini terus panik dan terpengaruh sentimen global. ''Wajar kalau otoritas bursa memberikan kesempatan kepada investor agar tidak panik lagi dengan suspensi,'' katanya.
Dalam jangka menengah, Budi optimistis harga bisa rebound. Sebab, kinerja perusahaan-perusahaan yang melantai di bursa masih cukup baik. Begitu pula dengan situasi makroekonomi yang masih kondusif.
Direktur Nikko Securities Adler H. Manurung menyatakan, penghentian perdagangan sebaiknya dilakukan saat close market sesi I. ''Sebab, kalau suspensi dilakukan di tengah jalan seperti tadi siang (kemarin), justru merusak bursa. Itu patut disesalkan,'' tegasnya.
Menurut dia, jika otoritas bursa ingin mengondusifkan pasar, setiap langkah yang diambil harus benar-benar menenangkan. ''Nah, kalau seperti tadi, justru merusak integritas bursa,'' ujarnya.
Menteri BUMN Sofyan Djalil menyebutkan, langkah suspensi merupakan tanggung jawab BEI untuk mengondusifkan pasar modal dan meredam kepanikan. ''Supaya kepanikan berkurang dan orang (investor, Red) bisa berpikir ulang,'' ucapnya kemarin.
Menurut Sofyan yang hingga kemarin siang menjabat Plt menteri keuangan menggantikan Sri Mulyani yang melawat ke luar negeri, langkah BEI didasarkan pada pertimbangan teknis setelah berkonsultasi dengan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bappepam-LK). ''Sebab, kalau harga (IHSG) turun sampai 10 persen, mereka bisa melakukan suspensi,'' jelasnya.
Kondisi pasar modal Indonesia memang harus dicermati secara komprehensif untuk melihat detail berbagai aspek yang menggerakkan. ''Saya melihat ada irregularities (hal yang tidak wajar),'' tegasnya.
Dia menilai, anjloknya pasar modal Indonesia dipicu kepanikan yang berlebihan, sehingga di luar kewajaran. Sebab, penurunan pasar saham lain di luar negeri tidak separah Indonesia karena hanya 2-4 persen.
Meski tidak dalam kondisi biasa pun, banyak negara yang sudah melakukan suspensi perdagangan bursanya. ''Misalnya, Rusia sudah menyuspensi lebih 2-3 hari,'' terangnya.
Melihat kritisnya kondisi finansial, Plt menko perekonomian sekaligus Menkeu Sri Mulyani Indrawati meninggalkan pertemuan di Dubai dan kembali ke Indonesia. Dia semestinya mengikuti pertemuan ASEAN Finance Minister Meeting di Dubai, Uni Emirate Arab, hingga 9 Oktober. ''Menkeu balik untuk berkoordinasi dengan kita,'' ujar Direktur BEI Eddy Sugito.
BI Jaga Rupiah
Bank Indonesia akan terus berada di pasar untuk menjaga agar pergerakan nilai tukar rupiah tidak terlalu tajam. Cadangan devisa Indonesia masih cukup kuat untuk mempertahankan nilai tukar rupiah di tingkat yang wajar. Meski sempat merosot tajam Selasa (7/10), bank sentral beranggapan nilai tukar masih berada pada ambang wajar.
''Dibanding posisi awal tahun, depresiasinya baru 2 persen,'' jelas Deputi Gubernur Senior BI Miranda Swaray Goeltom kemarin (8/10). Dia menyatakan, cadangan devisa Indonesia masih setara dengan 4,5 bulan impor. ''Cadangan devisa kita masih sangat memadai,'' kata Miranda.
Berbeda dari saham yang anjlok drastis, rupiah pada perdagangan kemarin hanya menurun tipis 35 poin ke posisi 9.595 per USD. Deputi Gubernur BI Budi Mulya menegaskan, BI tidak pernah menargetkan nilai tukar rupiah. Namun, yang terpenting adalah menjaga volatilitasnya.
Nilai tukar rupiah tidak anjlok karena asing masih mengoleksi SBI (Sertifikat Bank Indonesia) dalam jumlah besar. Menurut Budi, kepemilikan asing atas SBI masih Rp 20 triliun.
Anggota Komisi Keuangan dan Perbankan DPR Dradjad Hari Wibowo menuturkan, kemampuan BI menahan nilai tukar rupiah tidak terlalu besar. Dia memperingatkan agar BI tidak memaksakan diri membuat nilai tukar menguat. Pelemahan nilai tukar rupiah bisa saja digunakan untuk meningkatkan daya saing ekspor. Yang terpenting, BI bisa menjaga agar volatilitasnya tidak terlalu lebar.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ikhsan Mojo menambahkan, BI tidak bisa menggunakan ukuran tradisional kebutuhan bulan impor untuk mengukur cadangan devisa. Sebab, dalam satu krisis, pergerakan kurs dan pelarian modal sangat cepat dan menyebabkan tergerusnya nilai riil dari cadangan devisa secara instan.
Dalam kasus Indonesia, hal itu ditambah fakta bahwa separo cadangan devisa didenominasikan dalam aset dolar AS, seperti US Treasury Bond yang saat ini nilainya tertekan. ''Salah kaprah jika dikatakan cadangan devisa Indonesia aman,'' kata Ikhsan.
Di tengah jebloknya rupiah dan saham, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono justru sempat menonton film bersama sejumlah menterinya. Film Laskar Pelangi yang disaksikan SBY berkisah tentang sisi buram pendidikan dasar di pulau kaya penghasil timah, Belitong. Presiden dan Ibu Negara sekitar pukul 19.00 tiba di Blitz Megaplex Grand Indonesia.
Sejumlah menteri tampak mendampingi presiden. Di antaranya, Mendiknas Bambang Sudibyo, Menkominfo Muhammad Nuh, Menbudpar Jero Wacik, dan Mensesneg Hatta Radjasa. Hadir pula sutradara Riri Reza, produser Mira Lesmana, penulis novel Laskar Pelangi Andrea Hirata, 12 anak Belitong yang menjadi tema sentral film Laskar Pelangi, serta 3.500 siswa dari Belitong.(sof/owi/wir/noe/iw/oki)
Peran China Dinantikan untuk Mengatasi Krisis
Pialang saham menggulung lembaran rekapitulasi transaksi saham di Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Rabu (8/10). Perdagangan saham dihentikan pukul 11.08 WIB saat indeks harga saham gabungan merosot tajam hingga 10,38 persen ke posisi 1.451,669. Usai rapat terbatas yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, semalam, Menteri Keuangan ad interim Sofyan Djalil mengatakan perdagangan belum bisa dibuka hari Kamis ini. Pembukaan pada Jumat pun masih harus memerhatikan kondisi pasar.
KOMPAS/RIZA FATHONI
Pialang saham menggulung lembaran rekapitulasi transaksi saham di Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Rabu (8/10). Perdagangan saham dihentikan pukul 11.08 WIB saat indeks harga saham gabungan merosot tajam hingga 10,38 persen ke posisi 1.451,669. Usai rapat terbatas yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, semalam, Menteri Keuangan ad interim Sofyan Djalil mengatakan perdagangan belum bisa dibuka hari Kamis ini. Pembukaan pada Jumat pun masih harus memerhatikan kondisi pasar.
Kamis, 9 Oktober 2008 | 06:09 WIB
BEIJING, KAMIS - Nuansa kepasrahan tercuat dari pernyataan para pemimpin negara terkaya di dunia. Upaya pengguyuran dana ke pasar oleh sejumlah bank sentral tak mampu meredakan kegelisahan pasar. Kini harapan ada pada China untuk menolong.
Rentetan tindakan penurunan suku bunga oleh beberapa bank sentral, Rabu (8/10), berhasil meredakan kepanikan bursa saham. Namun, ini hanya berlangsung sebentar. Tak lama kemudian, indeks Dow Jones di New York malah anjlok lagi 182,95 poin menjadi 9.264,16 poin. Ini melengkapi kejatuhan sebelumnya di hampir semua bursa dunia dan melahirkan rekor baru, seperti yang terjadi di Jepang.
Kejatuhan bursa dipicu anjloknya indeks saham di New York, Selasa, sekitar 500 poin indeks Dow Jones dan kejatuhan indeks Standard & Poor’s ke bawah 1.000 poin, terburuk sejak tahun 2003. ”Planet keuangan berada dalam sebuah krisis total,” kata anggota Dewan Direksi Bank Sentral Eropa, Guy Quaden.
Pemicu terbaru adalah penyerbuan yang dilakukan para nasabah terhadap bank di Eropa untuk menarik simpanan. Pemicu lain adalah keengganan sesama bank saling meminjamkan, yang memacetkan aliran dana perbankan, urat nadi perekonomian global. Hasil analisis Dana Moneter Internasional (IMF) pekan lalu mengingatkan, krisis perbankan memiliki kekuatan yang lebih besar untuk menyebabkan resesi. Penurunan pertumbuhan setidaknya dua kuartal berturut-turut sudah bisa disebut sebagai resesi.
Ironisnya, kejatuhan ini terjadi setelah paket dana talangan 700 miliar dollar AS sudah ditandatangani Presiden AS George Walker Bush. Kejatuhan juga terjadi setelah Bank Sentral AS menjanjikan akan membeli surat berharga berjangka pendek senilai 900 miliar dollar AS dari pasar. Beberapa negara di Eropa juga menaikkan jumlah simpanan nasabah yang dijamin pemerintah. Namun, semua ini tak mencegah kepanikan di bursa global. ”Pasar tak bergerak. Penyuntikan dana bank sentral ke pasar sama artinya dengan transfusi darah ke tubuh manusia yang urat nadinya tersumbat,” kata Hiroichi Nishi, pialang di Nikko Cordial, Tokyo, Rabu.
Dari Hongkong ke Paris, Singapura ke Frankfurt, investor mencampakkan saham. Investor khawatir otoritas tak lagi berdaya menghentikan krisis terbesar global sejak Depresi Besar 1929 di AS. ”Pasar seperti kerasukan dan penjualan massal terjadi secara global,” kata Matt Buckland, pialang dari CMC Markets, London.
Presiden Bush mengatakan, kekacauan ekonomi menyebabkan kesulitan hidup bagi warga AS. ”Saya ingin melakukan sesuatu untuk menghentikan semua ini. Namun, krisis belum bisa dihentikan,” kata Bush.
Sadar akan hal itu, Presiden Bush mengatakan telah menghubungi sejumlah pemimpin di Eropa, seperti Inggris, Perancis, dan Italia. Tujuannya, untuk mencari strategi mengatasi krisis. ”Saya berbicara langsung dengan mereka pagi ini untuk mengupayakan tindakan yang terkoordinasi. Kami ingin agar tindakan dilakukan secara efektif,” kata Bush, Selasa.
Gedung Putih mengatakan, Presiden Bush akan terbuka pada ide-ide untuk mengatasi krisis. Ini adalah sebuah perubahan sikap drastis mengingat sebelumnya Presiden Bush selalu abai atas keinginan pemimpin G-8 untuk mengatur sektor keuangan yang sudah berjalan liar.
Michel Camdessus, mantan Direktur Pelaksana IMF, mengatakan, ”Akar krisis adalah minimnya peraturan yang mengontrol sektor keuangan AS.”
Gubernur Bank Sentral AS Ben Bernanke, pada hari yang sama di hadapan Asosiasi Nasional Ekonomi Bisnis (National Association for Business Economics) di Washington mengingatkan, krisis keuangan tidak saja memburuk, tetapi juga memperpanjang penderitaan. ”Prospek perekonomian kian buruk,” katanya.
Tak mempan
Perdana Menteri Jepang Taro Aso juga memperlihatkan kepasrahan. ”Para pemimpin Uni Eropa sudah bertemu, tetapi tetap tak bisa meredakan gejolak. Pasar Eropa malah bergolak cepat dan substansial. Saya khawatir akan dampak dari krisis ini terasa di Jepang,” kata PM Aso merujuk pada pertemuan para pemimpin Uni Eropa, Sabtu lalu.
PM Aso mengatakan, harapan terbaru yang bisa dia sandarkan adalah pertemuan G-7 (AS, Inggris, Perancis, Italia, Jerman, Jepang, dan Kanada). Namun, PM Aso mengatakan, jika pertemuan G-7 tak mampu meredakan pasar, keadaan malah bisa lebih buruk.
Kini harapan ada pada China. Presiden Bush sudah berbicara langsung dengan Presiden Hu Jintao soal upaya penyelamatan krisis ekonomi.
PM China Wen Jiabao berjanji, negaranya mau mengulurkan tangan untuk mengatasi krisis keuangan AS. Tidak disebutkan uluran tangan yang dimaksud. Namun, beredar informasi yang belum dikonfirmasikan bahwa China akan menggunakan sebagian cadangan devisanya (1,81 triliun dollar AS) untuk membeli surat utang korporasi AS, yang terjebak kemacetan di sektor properti AS.
Keengganan China memegang surat-surat berharga AS dalam setahun terakhir turut mempercepat kejatuhan sektor keuangan AS. Namun, kantor berita Reuters mengatakan, kesediaan China menolong pasti didasari pada tindakan quid pro quo (memberikan sesuatu untuk menerima sesuatu).
”Beijing akan meminta AS membuka pasar lebih besar, termasuk bagi penjualan produk China dan juga pembelian perusahaan AS oleh perusahaan China. China juga akan menuntut peran lebih besar di IMF,” kata Mei Xinyu, peneliti senior dari Departemen Perdagangan China, Rabu.
Dapatkan artikel ini di URL:
http://www.kompas.com/read/xml/2008/10/09/06090832/peran.china.dinantikan.untuk.mengatasi.krisis
KOMPAS/RIZA FATHONI
Pialang saham menggulung lembaran rekapitulasi transaksi saham di Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Rabu (8/10). Perdagangan saham dihentikan pukul 11.08 WIB saat indeks harga saham gabungan merosot tajam hingga 10,38 persen ke posisi 1.451,669. Usai rapat terbatas yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, semalam, Menteri Keuangan ad interim Sofyan Djalil mengatakan perdagangan belum bisa dibuka hari Kamis ini. Pembukaan pada Jumat pun masih harus memerhatikan kondisi pasar.
Kamis, 9 Oktober 2008 | 06:09 WIB
BEIJING, KAMIS - Nuansa kepasrahan tercuat dari pernyataan para pemimpin negara terkaya di dunia. Upaya pengguyuran dana ke pasar oleh sejumlah bank sentral tak mampu meredakan kegelisahan pasar. Kini harapan ada pada China untuk menolong.
Rentetan tindakan penurunan suku bunga oleh beberapa bank sentral, Rabu (8/10), berhasil meredakan kepanikan bursa saham. Namun, ini hanya berlangsung sebentar. Tak lama kemudian, indeks Dow Jones di New York malah anjlok lagi 182,95 poin menjadi 9.264,16 poin. Ini melengkapi kejatuhan sebelumnya di hampir semua bursa dunia dan melahirkan rekor baru, seperti yang terjadi di Jepang.
Kejatuhan bursa dipicu anjloknya indeks saham di New York, Selasa, sekitar 500 poin indeks Dow Jones dan kejatuhan indeks Standard & Poor’s ke bawah 1.000 poin, terburuk sejak tahun 2003. ”Planet keuangan berada dalam sebuah krisis total,” kata anggota Dewan Direksi Bank Sentral Eropa, Guy Quaden.
Pemicu terbaru adalah penyerbuan yang dilakukan para nasabah terhadap bank di Eropa untuk menarik simpanan. Pemicu lain adalah keengganan sesama bank saling meminjamkan, yang memacetkan aliran dana perbankan, urat nadi perekonomian global. Hasil analisis Dana Moneter Internasional (IMF) pekan lalu mengingatkan, krisis perbankan memiliki kekuatan yang lebih besar untuk menyebabkan resesi. Penurunan pertumbuhan setidaknya dua kuartal berturut-turut sudah bisa disebut sebagai resesi.
Ironisnya, kejatuhan ini terjadi setelah paket dana talangan 700 miliar dollar AS sudah ditandatangani Presiden AS George Walker Bush. Kejatuhan juga terjadi setelah Bank Sentral AS menjanjikan akan membeli surat berharga berjangka pendek senilai 900 miliar dollar AS dari pasar. Beberapa negara di Eropa juga menaikkan jumlah simpanan nasabah yang dijamin pemerintah. Namun, semua ini tak mencegah kepanikan di bursa global. ”Pasar tak bergerak. Penyuntikan dana bank sentral ke pasar sama artinya dengan transfusi darah ke tubuh manusia yang urat nadinya tersumbat,” kata Hiroichi Nishi, pialang di Nikko Cordial, Tokyo, Rabu.
Dari Hongkong ke Paris, Singapura ke Frankfurt, investor mencampakkan saham. Investor khawatir otoritas tak lagi berdaya menghentikan krisis terbesar global sejak Depresi Besar 1929 di AS. ”Pasar seperti kerasukan dan penjualan massal terjadi secara global,” kata Matt Buckland, pialang dari CMC Markets, London.
Presiden Bush mengatakan, kekacauan ekonomi menyebabkan kesulitan hidup bagi warga AS. ”Saya ingin melakukan sesuatu untuk menghentikan semua ini. Namun, krisis belum bisa dihentikan,” kata Bush.
Sadar akan hal itu, Presiden Bush mengatakan telah menghubungi sejumlah pemimpin di Eropa, seperti Inggris, Perancis, dan Italia. Tujuannya, untuk mencari strategi mengatasi krisis. ”Saya berbicara langsung dengan mereka pagi ini untuk mengupayakan tindakan yang terkoordinasi. Kami ingin agar tindakan dilakukan secara efektif,” kata Bush, Selasa.
Gedung Putih mengatakan, Presiden Bush akan terbuka pada ide-ide untuk mengatasi krisis. Ini adalah sebuah perubahan sikap drastis mengingat sebelumnya Presiden Bush selalu abai atas keinginan pemimpin G-8 untuk mengatur sektor keuangan yang sudah berjalan liar.
Michel Camdessus, mantan Direktur Pelaksana IMF, mengatakan, ”Akar krisis adalah minimnya peraturan yang mengontrol sektor keuangan AS.”
Gubernur Bank Sentral AS Ben Bernanke, pada hari yang sama di hadapan Asosiasi Nasional Ekonomi Bisnis (National Association for Business Economics) di Washington mengingatkan, krisis keuangan tidak saja memburuk, tetapi juga memperpanjang penderitaan. ”Prospek perekonomian kian buruk,” katanya.
Tak mempan
Perdana Menteri Jepang Taro Aso juga memperlihatkan kepasrahan. ”Para pemimpin Uni Eropa sudah bertemu, tetapi tetap tak bisa meredakan gejolak. Pasar Eropa malah bergolak cepat dan substansial. Saya khawatir akan dampak dari krisis ini terasa di Jepang,” kata PM Aso merujuk pada pertemuan para pemimpin Uni Eropa, Sabtu lalu.
PM Aso mengatakan, harapan terbaru yang bisa dia sandarkan adalah pertemuan G-7 (AS, Inggris, Perancis, Italia, Jerman, Jepang, dan Kanada). Namun, PM Aso mengatakan, jika pertemuan G-7 tak mampu meredakan pasar, keadaan malah bisa lebih buruk.
Kini harapan ada pada China. Presiden Bush sudah berbicara langsung dengan Presiden Hu Jintao soal upaya penyelamatan krisis ekonomi.
PM China Wen Jiabao berjanji, negaranya mau mengulurkan tangan untuk mengatasi krisis keuangan AS. Tidak disebutkan uluran tangan yang dimaksud. Namun, beredar informasi yang belum dikonfirmasikan bahwa China akan menggunakan sebagian cadangan devisanya (1,81 triliun dollar AS) untuk membeli surat utang korporasi AS, yang terjebak kemacetan di sektor properti AS.
Keengganan China memegang surat-surat berharga AS dalam setahun terakhir turut mempercepat kejatuhan sektor keuangan AS. Namun, kantor berita Reuters mengatakan, kesediaan China menolong pasti didasari pada tindakan quid pro quo (memberikan sesuatu untuk menerima sesuatu).
”Beijing akan meminta AS membuka pasar lebih besar, termasuk bagi penjualan produk China dan juga pembelian perusahaan AS oleh perusahaan China. China juga akan menuntut peran lebih besar di IMF,” kata Mei Xinyu, peneliti senior dari Departemen Perdagangan China, Rabu.
Dapatkan artikel ini di URL:
http://www.kompas.com/read/xml/2008/10/09/06090832/peran.china.dinantikan.untuk.mengatasi.krisis
Sinyal Kelabu bagi Industri Barang Mewah
JAKARTA, KAMIS - Kelas menengah dan atas paling menderita akibat krisis keuangan yang terlihat dari kejatuhan harga saham di berbagai bursa saham dunia. Harga saham mulai dari AS, Eropa, Asia, hingga Timur Tengah berjatuhan sejak Senin. Sempat membaik diawali transaksi Selasa, harga saham kembali jatuh bebas, Rabu (8/10).
Kebangkrutan masyarakat kelas menengah dan atas jelas sebuah sinyal kelabu, bahkan gelap, bagi industri barang mewah, termasuk industri mobil dunia. Bisnis berlian, minuman berkelas, pakaian mewah, mobil balap, bahkan mobil kelas atas bakal mengalami penurunan penjualan.
Penjualan sampanye turun 2,6 persen dalam delapan bulan pertama tahun 2008 menjadi 165 juta botol. Ekspor ke AS dilaporkan turun 22 persen menjadi 6,5 juta botol pada semester pertama. Krisis keuangan bakal membuat angka penjualan ini turun lagi. Namun, pepatah bilang, ”situasi sulit justru membuat orang butuh sampanye”.
Penghasil mobil sport mewah, Ferrari, tadinya mengharapkan penjualan produk mereka akan naik tajam tahun 2008. ”Penjualan di AS dan Eropa konstan, tetapi meledak di negara seperti Rusia, China, dan Uni Emirat Arab,” ujar Amedeo Felisa, CEO Ferrari.
Sudah 6.000 orang memesan Ferrari tipe terbaru, sebuah mobil kabriolet dengan harga jual sekitar 179.000 euro atau sekitar Rp 2,4 miliar per unit. Pesanan atas mobil keluaran Lamborghini sejauh ini belum ada yang dibatalkan.
Sejauh ini mungkin masih belum terlihat dampak dari krisis bagi keuangan. Akan tetapi, harga saham yang jatuh bebas dan berlangsung panjang diperkirakan segera memengaruhi penjualan produk mewah, semisal mobil-mobil yang banyak diminati kelas menengah.
Pemutusan hubungan kerja
Pabrik mobil Volvo di Stockholm, Swedia, hari Rabu langsung mengeluarkan sinyal akan mengurangi lebih dari 3.000 karyawannya di Swedia dan seluruh dunia. Angka ini tambahan dari pengurangan 2.000 pekerja yang diumumkan awal tahun ini.
Volvo yang kini dikuasai Ford, raksasa mobil AS, terpaksa melakukan hal ini mengingat kondisi industri mobil yang kurang meyakinkan pada tahun ini. Krisis keuangan yang ada semakin membuat kondisi memburuk dan Volvo segera mengantisipasi dengan pemutusan hubungan kerja (PHK).
”Kondisi yang sulit bagi industri mobil secara umum, termasuk Volvo. Langkah ini diperlukan untuk menciptakan perusahaan mobil Volvo yang bisa bertahan dan baru. Perusahaan akan lebih fokus pada operasi dan struktur,” ujar Stephen Odell, CEO Volvo.
Situasi ekonomi yang tidak stabil dan tak menentu membuat kondisi sulit diprediksi. ”Penurunan industri mobil global bakal lebih drastis dari perkiraan,” ujar Odell.
Volvo yang kini punya 24.400 pekerja di seluruh dunia, termasuk 17.600 orang di Swedia, segera mengantisipasi keadaan ketimbang terlambat dan tenggelam. Situasi ekonomi global yang diwarnai krisis keuangan bakal lebih cepat menenggelamkan Volvo jika tidak segera diantisipasi.
UniCredit dari Italia juga akan mengurangi 700 karyawannya di sektor bank investasi. ”Sebuah pilihan cepat menghadapi krisis keuangan,” ujar Alessandro Profumo, pimpinan UniCredit, di Milan, Rabu. Sebelumnya, UniCredit sudah menghentikan 300 pekerjanya.
Krisis keuangan membuat UniCredit kehilangan aset cukup besar. Pemiliknya harus menambah modal hingga 7 miliar euro berkenaan dengan bangkrutnya HypoVereinsbank di Muenchen, Jerman. Bank pemberi kredit perumahan nomor dua di Jerman ini dibeli UniCredit tahun 2005.
Dampak krisis keuangan juga memukul saham Toyota Motor Corp, penghasil mobil nomor satu Jepang dan nomor dua dunia setelah General Motor, AS. Saham Toyota di bursa Tokyo hari Rabu anjlok setelah perusahaan itu melaporkan kerugian keuntungan operasional sebesar 40 persen pada tahun fiskal yang berakhir Maret.
Direktur Pelaksana Toyota Yoichiro Ichimaru mengakui, jumlah penjualan mobil mereka bakal berat karena penjualan mobil di AS jatuh. Begitu juga penjualan mobil di Eropa. Ke depan, angka penjualan ini bakal semakin tenggelam mengingat krisis keuangan belum juga memperlihatkan segera teratasi.
Toyota kemungkinan akan mengurangi target penjualan mobil dari 9,5 juta unit pada tahun ini. Target penjualan harus realistis, sejalan dengan kondisi perekonomian dunia yang lagi ”sakit”.
Krisis keuangan dunia memang membuat masyarakat kelas menengah dan atas rugi besar akibat harga saham dan surat berharga yang anjlok. Tetapi, dalam jangka panjang, masyarakat kelas bawah juga bakal terkena, terutama berkaitan dengan aksi PHK.
Para pemilik modal mengamankan aset mereka dengan mengorbankan karyawannya. Pilihan yang sulit agar ”kapal” tak karam.
Dapatkan artikel ini di URL:
http://www.kompas.com/read/xml/2008/10/09/06133767/sinyal.kelabu.bagi.industri.barang.mewah
Kebangkrutan masyarakat kelas menengah dan atas jelas sebuah sinyal kelabu, bahkan gelap, bagi industri barang mewah, termasuk industri mobil dunia. Bisnis berlian, minuman berkelas, pakaian mewah, mobil balap, bahkan mobil kelas atas bakal mengalami penurunan penjualan.
Penjualan sampanye turun 2,6 persen dalam delapan bulan pertama tahun 2008 menjadi 165 juta botol. Ekspor ke AS dilaporkan turun 22 persen menjadi 6,5 juta botol pada semester pertama. Krisis keuangan bakal membuat angka penjualan ini turun lagi. Namun, pepatah bilang, ”situasi sulit justru membuat orang butuh sampanye”.
Penghasil mobil sport mewah, Ferrari, tadinya mengharapkan penjualan produk mereka akan naik tajam tahun 2008. ”Penjualan di AS dan Eropa konstan, tetapi meledak di negara seperti Rusia, China, dan Uni Emirat Arab,” ujar Amedeo Felisa, CEO Ferrari.
Sudah 6.000 orang memesan Ferrari tipe terbaru, sebuah mobil kabriolet dengan harga jual sekitar 179.000 euro atau sekitar Rp 2,4 miliar per unit. Pesanan atas mobil keluaran Lamborghini sejauh ini belum ada yang dibatalkan.
Sejauh ini mungkin masih belum terlihat dampak dari krisis bagi keuangan. Akan tetapi, harga saham yang jatuh bebas dan berlangsung panjang diperkirakan segera memengaruhi penjualan produk mewah, semisal mobil-mobil yang banyak diminati kelas menengah.
Pemutusan hubungan kerja
Pabrik mobil Volvo di Stockholm, Swedia, hari Rabu langsung mengeluarkan sinyal akan mengurangi lebih dari 3.000 karyawannya di Swedia dan seluruh dunia. Angka ini tambahan dari pengurangan 2.000 pekerja yang diumumkan awal tahun ini.
Volvo yang kini dikuasai Ford, raksasa mobil AS, terpaksa melakukan hal ini mengingat kondisi industri mobil yang kurang meyakinkan pada tahun ini. Krisis keuangan yang ada semakin membuat kondisi memburuk dan Volvo segera mengantisipasi dengan pemutusan hubungan kerja (PHK).
”Kondisi yang sulit bagi industri mobil secara umum, termasuk Volvo. Langkah ini diperlukan untuk menciptakan perusahaan mobil Volvo yang bisa bertahan dan baru. Perusahaan akan lebih fokus pada operasi dan struktur,” ujar Stephen Odell, CEO Volvo.
Situasi ekonomi yang tidak stabil dan tak menentu membuat kondisi sulit diprediksi. ”Penurunan industri mobil global bakal lebih drastis dari perkiraan,” ujar Odell.
Volvo yang kini punya 24.400 pekerja di seluruh dunia, termasuk 17.600 orang di Swedia, segera mengantisipasi keadaan ketimbang terlambat dan tenggelam. Situasi ekonomi global yang diwarnai krisis keuangan bakal lebih cepat menenggelamkan Volvo jika tidak segera diantisipasi.
UniCredit dari Italia juga akan mengurangi 700 karyawannya di sektor bank investasi. ”Sebuah pilihan cepat menghadapi krisis keuangan,” ujar Alessandro Profumo, pimpinan UniCredit, di Milan, Rabu. Sebelumnya, UniCredit sudah menghentikan 300 pekerjanya.
Krisis keuangan membuat UniCredit kehilangan aset cukup besar. Pemiliknya harus menambah modal hingga 7 miliar euro berkenaan dengan bangkrutnya HypoVereinsbank di Muenchen, Jerman. Bank pemberi kredit perumahan nomor dua di Jerman ini dibeli UniCredit tahun 2005.
Dampak krisis keuangan juga memukul saham Toyota Motor Corp, penghasil mobil nomor satu Jepang dan nomor dua dunia setelah General Motor, AS. Saham Toyota di bursa Tokyo hari Rabu anjlok setelah perusahaan itu melaporkan kerugian keuntungan operasional sebesar 40 persen pada tahun fiskal yang berakhir Maret.
Direktur Pelaksana Toyota Yoichiro Ichimaru mengakui, jumlah penjualan mobil mereka bakal berat karena penjualan mobil di AS jatuh. Begitu juga penjualan mobil di Eropa. Ke depan, angka penjualan ini bakal semakin tenggelam mengingat krisis keuangan belum juga memperlihatkan segera teratasi.
Toyota kemungkinan akan mengurangi target penjualan mobil dari 9,5 juta unit pada tahun ini. Target penjualan harus realistis, sejalan dengan kondisi perekonomian dunia yang lagi ”sakit”.
Krisis keuangan dunia memang membuat masyarakat kelas menengah dan atas rugi besar akibat harga saham dan surat berharga yang anjlok. Tetapi, dalam jangka panjang, masyarakat kelas bawah juga bakal terkena, terutama berkaitan dengan aksi PHK.
Para pemilik modal mengamankan aset mereka dengan mengorbankan karyawannya. Pilihan yang sulit agar ”kapal” tak karam.
Dapatkan artikel ini di URL:
http://www.kompas.com/read/xml/2008/10/09/06133767/sinyal.kelabu.bagi.industri.barang.mewah
Perlawanan Dunia Terhadap Krisis Keuangan
Amerika Serikat
Untuk pertama kalinya, The Federal Reserves (Fed) akan memompakan dana tunai ke perusahaan di luar institusi keuangan. Selasa (7/10), bank sentral AS itu memutuskan membeli commercial paper alias obligasi jangka pendek perusahaan. The Fed memperkirakan nilai commercial paper yang layak dibeli sekitar US$ 1,3 triliun. Gubernur The Fed, Ben Bernanke, juga memberi sinyal penurunan bunga di pertemuan 29 Oktober ini.
Inggris
Rabu (8/10), Bank of England (BOE) menawarkan untuk memompa dana ke dalam bank-bank ritel besarnya senilai US$ 87,2 miliar. Sebagai gantinya, Pemerintah akan memperoleh saham bank-bank itu. Demi melancarkan pasar uang Inggris, BOE juga menawarkan pinjaman jangka pendek sedikitnya 200 miliar poundsterling.
Jepang
Bank of Japan meminjamkan US$ 20 miliar dengan bunga rata-rata 4,14% pada operasi dolarnya yang kedua, Selasa (7/10). BOJ berencana melakukan tiga kali lagi operasi dolar tahun ini dengan yang jumlahnya diperkirakan mencapai US$ 80 miliar.
Hong Kong
Hong Kong Monetary Authority memangkas suku bunga acuannya 1% menjadi 3,5% yang mulai berlaku hari ini. Ini merupakan pemangkasan terbesar sejak Hong Kong menggunakan suku bunga acuan tersebut satu dekade lalu.
Spanyol
Spanyol adalah negara pertama di Eropa yang mengikuti langkah AS. Negeri matador ini akan membelanjakan 50 miliar euro (US$ 68 miliar) untuk membeli aset dari bank-bank yang bermasalah. Spanyol juga menaikkan batas simpanan dana nasabah yang dijamin pemerintah menjadi 100.000 euro. Spanyol memasuki resesi pertamanya dalam 15 tahun terakhir.
Australia
Sehari setelah memotong suku bunga 1%, Australia memberi kejutan lagi. Bank sentralnya, Royal Bank of Australia, menambahkan US$ 856 juta ke dalam sistem finansial. Bank bisa mengakses dana ini melalui produk repurchase agreement (repo). Selain itu, RBA pun melonggarkan jaminan bank untuk membeli repo.
Rusia
Presiden Dmitry Medvedev berupaya mempertahankan ekonomi Rusia dengan menyediakan pinjaman senilai hampir US$ 200 miliar untuk bank, perusahaan properti, dan energi. Khusus untuk bank-bank utama negeri itu, Rusia akan meminjamkan US$ 37 miliar. Ekonomi Rusia memasuki krisis keuangan terburuk sejak 1998. Dalam tiga minggu terakhir, Otoritas Bursa Rusia telah menghentikan transaksi bursa MICEX 9 kali.
Brazil
Presiden Brazil Luiz Inacio Lula da Silva mengizinkan bank sentralnya untuk membeli kredit dari bank-bank yang kesulitan dana. Lula berusaha mengembalikan kepercayaan pasar setelah bursa Brazil anjlok dan transaksinya dihentikan, Selasa (7/10). Pemerintah juga akan menyediakan US$ 2,29 miliar bagi bank pembangunan negara itu guna membiayai industri perdagangan.
Di samping itu, bank sentral Brazil akan memakai cadangan devisanya untuk membiayai ekspor, meminjamkan dolar ke perusahaan Brazil di luar negeri. Bank sentral juga melelang kontrak swap dolar senilai US$ 2,05 miliar hari ini (8/10).
Bloomberg, Reuters
Untuk pertama kalinya, The Federal Reserves (Fed) akan memompakan dana tunai ke perusahaan di luar institusi keuangan. Selasa (7/10), bank sentral AS itu memutuskan membeli commercial paper alias obligasi jangka pendek perusahaan. The Fed memperkirakan nilai commercial paper yang layak dibeli sekitar US$ 1,3 triliun. Gubernur The Fed, Ben Bernanke, juga memberi sinyal penurunan bunga di pertemuan 29 Oktober ini.
Inggris
Rabu (8/10), Bank of England (BOE) menawarkan untuk memompa dana ke dalam bank-bank ritel besarnya senilai US$ 87,2 miliar. Sebagai gantinya, Pemerintah akan memperoleh saham bank-bank itu. Demi melancarkan pasar uang Inggris, BOE juga menawarkan pinjaman jangka pendek sedikitnya 200 miliar poundsterling.
Jepang
Bank of Japan meminjamkan US$ 20 miliar dengan bunga rata-rata 4,14% pada operasi dolarnya yang kedua, Selasa (7/10). BOJ berencana melakukan tiga kali lagi operasi dolar tahun ini dengan yang jumlahnya diperkirakan mencapai US$ 80 miliar.
Hong Kong
Hong Kong Monetary Authority memangkas suku bunga acuannya 1% menjadi 3,5% yang mulai berlaku hari ini. Ini merupakan pemangkasan terbesar sejak Hong Kong menggunakan suku bunga acuan tersebut satu dekade lalu.
Spanyol
Spanyol adalah negara pertama di Eropa yang mengikuti langkah AS. Negeri matador ini akan membelanjakan 50 miliar euro (US$ 68 miliar) untuk membeli aset dari bank-bank yang bermasalah. Spanyol juga menaikkan batas simpanan dana nasabah yang dijamin pemerintah menjadi 100.000 euro. Spanyol memasuki resesi pertamanya dalam 15 tahun terakhir.
Australia
Sehari setelah memotong suku bunga 1%, Australia memberi kejutan lagi. Bank sentralnya, Royal Bank of Australia, menambahkan US$ 856 juta ke dalam sistem finansial. Bank bisa mengakses dana ini melalui produk repurchase agreement (repo). Selain itu, RBA pun melonggarkan jaminan bank untuk membeli repo.
Rusia
Presiden Dmitry Medvedev berupaya mempertahankan ekonomi Rusia dengan menyediakan pinjaman senilai hampir US$ 200 miliar untuk bank, perusahaan properti, dan energi. Khusus untuk bank-bank utama negeri itu, Rusia akan meminjamkan US$ 37 miliar. Ekonomi Rusia memasuki krisis keuangan terburuk sejak 1998. Dalam tiga minggu terakhir, Otoritas Bursa Rusia telah menghentikan transaksi bursa MICEX 9 kali.
Brazil
Presiden Brazil Luiz Inacio Lula da Silva mengizinkan bank sentralnya untuk membeli kredit dari bank-bank yang kesulitan dana. Lula berusaha mengembalikan kepercayaan pasar setelah bursa Brazil anjlok dan transaksinya dihentikan, Selasa (7/10). Pemerintah juga akan menyediakan US$ 2,29 miliar bagi bank pembangunan negara itu guna membiayai industri perdagangan.
Di samping itu, bank sentral Brazil akan memakai cadangan devisanya untuk membiayai ekspor, meminjamkan dolar ke perusahaan Brazil di luar negeri. Bank sentral juga melelang kontrak swap dolar senilai US$ 2,05 miliar hari ini (8/10).
Bloomberg, Reuters
BEI: Hari Ini Pasar Bertindak Irasional
Rabu, 8 Oktober 2008 |
JAKARTA. Bursa Efek Indonesia menghentikan seluruh perdagangan saham pada Rabu 8 Oktober 2008 lalu setelah pada perdagangan sesi pagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun hingga 10,38% atau sebesar 168,052 poin menjadi 1.451,669 pada jam 11.06 WIB. Suspensi atau penghentian perdagangan ini dilakukan karena penurunan yang signifikan tidak diikuti dengan volume yang wajar.
"Kita melihat pasar bersikap irasional hari ini dengan kejatuhan indeks lebih dari 10%, tetapi transaksinya hanya di bawah Rp 1 triliun," kata Direktur Utama BEI Erry Firmansyah dalam konferensi pers di Gedung Bursa Efek Indonesia hari ini (8/10). Total nilai transaksi kemarin sebesar Rp 988,80 miliar dengan volume sebesar 1,13 miliar dan frekuensi perdagangan sebesar 27.494 kali. Penghentian perdagangan ini dimaksudkan agar pasar lebih tenang dan bisa berpikir jernih tanpa terpengaruh sentimen dari pasar regional yang cukup pekat.
Pada perdagangan hari pertama setelah libur Lebaran, IHSG sudah mulai menunjukkan penurunan tajam. Pada awal pekan ini, IHSG turun hingga 11,11% dibanding sebelum libur empat hari Lebaran. Waktu itu, BEI belum berniat menyuspensi perdagangan IHSG. Direktur Pencatatan BEI Eddy Sugito mengatakan, sejak hari Senin itu, BEI memang sudah berjaga-jaga karena terjadi penurunan yang sangat tajam. Tapi penurunan IHSG dibanding dengan penurunan pasar regional selama libur Lebaran masih cukup rasional. "Pagi ini, kita harusnya tidak boleh lebih dari pasar lain karena tidak ada yang salah dengan makro ekonomi kita," kata Eddy.
Untuk tindakan suspensi ini, BEI sudah berkonsultasi dengan Bapepam. “Kami putuskan, suspensi dilakukan setelah penurunan indeks lewat dari 10%,” jelas Erry. Mulanya, penghentian sementara perdagangan ini hanya akan dilakukan pada sesi satu perdagangan. Namun, setelah melihat perkembangan pasar regional, akhirnya menjelang perdagangan sesi dua, BEI mengumumkan penghentian sementara di sesi kedua juga.
Hingga sekarang ini, BEI masih belum memutuskan kapan akan membuka kembali perdagangan efek bersifat ekuitas dan derivatif di BEI. Sambil terus mengamati perkembangan pasar regional dan global, BEI sedang melakukan pemeriksaan kalau-kalau ada faktor selain sentimen dari Amerika yang mempengaruhi pergerakan bursa hari ini.
Meski suspensi ini baru pertama kali terjadi di Indonesia, BEI masih menganggap wajar penghentian perdagangan di pasar efek. Soalnya, sebelumnya pasar di Rusia, India, dan Kairo juga pernah dihentikan sementara waktu karena alasan yang sama. "Sampai kapan akan disuspen itu sifatnya kondisional, jadi tidak ada batasan berapa lama disuspensi," kata Sekretaris Bapepam-LK Ngalim Sawega.
JAKARTA. Bursa Efek Indonesia menghentikan seluruh perdagangan saham pada Rabu 8 Oktober 2008 lalu setelah pada perdagangan sesi pagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun hingga 10,38% atau sebesar 168,052 poin menjadi 1.451,669 pada jam 11.06 WIB. Suspensi atau penghentian perdagangan ini dilakukan karena penurunan yang signifikan tidak diikuti dengan volume yang wajar.
"Kita melihat pasar bersikap irasional hari ini dengan kejatuhan indeks lebih dari 10%, tetapi transaksinya hanya di bawah Rp 1 triliun," kata Direktur Utama BEI Erry Firmansyah dalam konferensi pers di Gedung Bursa Efek Indonesia hari ini (8/10). Total nilai transaksi kemarin sebesar Rp 988,80 miliar dengan volume sebesar 1,13 miliar dan frekuensi perdagangan sebesar 27.494 kali. Penghentian perdagangan ini dimaksudkan agar pasar lebih tenang dan bisa berpikir jernih tanpa terpengaruh sentimen dari pasar regional yang cukup pekat.
Pada perdagangan hari pertama setelah libur Lebaran, IHSG sudah mulai menunjukkan penurunan tajam. Pada awal pekan ini, IHSG turun hingga 11,11% dibanding sebelum libur empat hari Lebaran. Waktu itu, BEI belum berniat menyuspensi perdagangan IHSG. Direktur Pencatatan BEI Eddy Sugito mengatakan, sejak hari Senin itu, BEI memang sudah berjaga-jaga karena terjadi penurunan yang sangat tajam. Tapi penurunan IHSG dibanding dengan penurunan pasar regional selama libur Lebaran masih cukup rasional. "Pagi ini, kita harusnya tidak boleh lebih dari pasar lain karena tidak ada yang salah dengan makro ekonomi kita," kata Eddy.
Untuk tindakan suspensi ini, BEI sudah berkonsultasi dengan Bapepam. “Kami putuskan, suspensi dilakukan setelah penurunan indeks lewat dari 10%,” jelas Erry. Mulanya, penghentian sementara perdagangan ini hanya akan dilakukan pada sesi satu perdagangan. Namun, setelah melihat perkembangan pasar regional, akhirnya menjelang perdagangan sesi dua, BEI mengumumkan penghentian sementara di sesi kedua juga.
Hingga sekarang ini, BEI masih belum memutuskan kapan akan membuka kembali perdagangan efek bersifat ekuitas dan derivatif di BEI. Sambil terus mengamati perkembangan pasar regional dan global, BEI sedang melakukan pemeriksaan kalau-kalau ada faktor selain sentimen dari Amerika yang mempengaruhi pergerakan bursa hari ini.
Meski suspensi ini baru pertama kali terjadi di Indonesia, BEI masih menganggap wajar penghentian perdagangan di pasar efek. Soalnya, sebelumnya pasar di Rusia, India, dan Kairo juga pernah dihentikan sementara waktu karena alasan yang sama. "Sampai kapan akan disuspen itu sifatnya kondisional, jadi tidak ada batasan berapa lama disuspensi," kata Sekretaris Bapepam-LK Ngalim Sawega.
Hang Seng Terpuruk Di Bawah Level 16.000

HONGKONG. Tidak hanya Indonesia saja yang terpuruk, beberapa pasar bursa Asia pun mengalami hal yang sama. Salah satunya yakni saham gabungan Hongkong. Hari ini, indeks harga gabungan Hongkong anjlok dan berada di bawah level 16.000 untuk pertama kalinya sejak Juli 2006.
Pada pukul 10.52 pagi tadi waktu Hongkong, indeks Hang Seng turun 826,88 poin atau 4,9% dan bertengger pada posisi 15.976,88. Jika dibandingkan dengan harga pada 30 Oktober tahun lalu yang mencapai 31.638,22, indeks Hang Seng sudah kehilangan separuh nilainya.
Meskipun bank sentral Hongkong sudah memangkas tingkat suku bunga, namun sepertinya hal itu tidak berpengaruh pada harga saham sejumlah perusahaan. HSBC Holdings Plc, misalnya, mengalami penurunan 2,5%. Demikian pula halnya dengan harga saham Bank of East Asia Ltd melorot 6,3%. Perusahaan besar lain seperti Aluminum Corp of China Ltd bahkan turun tajam sebesar 13%.
Pemicu penurunan ini disebabkan adanya kekhawatiran investor bahwa krisis kredit akan mengguncang dunia perbankan sehingga menyebabkan perlambatan pertumbuhan ekonomi.
“Investor saat ini sangat panik. Tidak ada yang peduli dengan valuasi. Saat ini yang paling penting adalah bertahan,” jelas Tat Auyeung, fund manager Apex Capital Management di Hongkong.
Subscribe to:
Posts (Atom)