Saturday, September 20, 2008

Bangga Menjadi Agen Profesional

Bangga Menjadi Agen Profesional


Andai ada anak yang mau menjadi agen asuransi, mungkin bakal dicegah orangtuanya. Atau, kalaupun diizinkan, menjadi agen asuransi adalah pilihan pekerjaan terakhir manakala pekerjaan lain tidak ada.

Maklum, citra agen asuransi di mata sebagian masyarakat belum begitu kuat, seperti halnya pekerja di bisnis lain. Padahal, sikap seperti itu tak perlu ada sebab profesi agen asuransi kini sudah jauh lebih terhormat dan membanggakan. Betapa tidak, agen semakin profesional, mereka membantu masyarakat merencanakan dan menemukan solusi keuangannya.

Menjadi agen sekarang sudah tidak bisa sembarangan. Mereka harus harus memiliki lisensi. Tanpa lisensi, mereka tidak bisa menjual produk asuransi. Perjuangan bertahan menjadi agen dan meraih sukses dibutuhkan mental yang kuat. Menurut catatan Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), dari 100 orang yang direkrut, hanya 50 persen yang mampu bertahan. Keras memang perjuangannya. Inilah yang membanggakan mereka.

Dari sisi materi pun, penghasilan seorang agen asuransi jiwa konon ada yang bisa melebihi gaji seorang direktur asuransi jiwa itu sendiri. Cerita bahwa ada agen asuransi yang bisa meraih penghasilan, belum bonus jalan-jalan ke luar negeri, sampai senilai Rp 6 miliar setahun bukan isapan jempol. ”Bahkan bisa dikatakan tanpa batas,” kata Ketua Top Agent Awards AAJI 2007 Nini Sumohandoyo.

Itu karena penghasilan dan insentif yang ditawarkan perusahaan asuransi memang melimpah ruah, bahkan ”gila-gilaan”. Bonus, seminar, dan pelatihan gratis bisa datang setiap saat bagi agen yang berprestasi. Ukuran prestasi tentu saja dinilai dari kemampuan seorang agen dalam meraih nilai premi dalam jumlah tertentu yang bisa dihasilkannya.

Belum lagi jalan-jalan gratis ke berbagai negara yang dibiayai perusahaan asuransi tempatnya bekerja. Pendeknya, menjadi agen asuransi yang profesional kini berkelimpahan fasilitas dan penghasilan. Soalnya, perusahaan asuransi sadar betul peran agen sangat penting. Merekalah roda paling depan dalam dinamika pemasaran produk asuransi yang harus diakui belum meluas dikenal masyarakat.

Karena itu pula, perusahaan asuransi berlomba-lomba meningkatkan profesionalitas agennya. ”Kalau mereka mispresentasi, terjadi kesalahan penjualan, ada informasi yang keliru, bisa fatal jadinya,” ujar Randy Lianggara, Country CEO AXA Indonesia, yang meniti kariernya mulai dari agen.

Lantas perusahaan asuransi membuat pendidikan bagi agennya, umumnya disebut academy. Prudential, misalnya, telah membuka academy di berbagai daerah. Lama pendidikan tergantung dari kebutuhan masing-masing perusahaan. Adapun materinya tentu saja beragam.

Lebih profesional

Selain pengenalan mendalam hal-ihwal asuransi, perekonomian, produk yang akan dijual, juga teknik-teknik pemasarannya, bagaimana berhadapan dengan masyarakat, dan sebagainya. Pendek kata, agen asuransi sekarang sudah lebih profesional karena berpendidikan lebih dari memadai. Tuntutan masyarakat pun semakin tinggi.

Bahkan, terakhir, AAJI berkolaborasi dengan LOMA dan LIMRA, dua organisasi bidang riset dan pendidikan asuransi internasional yang menyelenggarakan berbagai jenis pendidikan untuk agen di Indonesia. ”Itu merupakan komitmen kami untuk meningkatkan profesionalitas dan integritas agen asuransi,” ujar Ketua Umum AAJI Evelina Pietruschka.

Harry Harmain Diah, tokoh perintis dan pelopor asuransi di Indonesia, berkisah, betapa profesi agen asuransi saat ini sungguh menyenangkan. ”Sekarang agen asuransi naik mobil Mercy (simbol kemewahan) yang diperoleh dari pendapatannya. Saya saja baru 10 tahun lalu naik Mercy,” kata Presdir PT Asuransi AIA Indonesia ini.

Dia ingat, sekitar 30 tahun silam betapa susahnya mengajak orang menjadi agen asuransi. ”Kami terpaksa berdiri di halte bus. Setiap ada orang yang turun dari bus, kami ajak menjadi agen, menjual asuransi. Susahnya setengah mati...,” tuturnya.

Kini, sudah ada 158.000 agen asuransi yang terdaftar di AAJI, tersebar di berbagai kota Indonesia. Pendidikan formal mereka sangat beragam, mulai dari tamat SLTA sampai yang bergelar S-2. Bahkan, ibu-ibu rumah tangga pun banyak yang berprofesi sebagai agen. Mereka tidak terikat jam kerja yang ketat sehingga bisa mengatur waktu kapan saja menemui nasabah, mempresentasikan produk jualannya.

Oleh karena itu, menjadi agen asuransi kini bukan lagi pilihan terakhir dalam mencari pekerjaan. Tidak lagi seperti dulu kala ketika banyak orang terpaksa coba-coba menjadi agen asuransi hanya karena tidak ada pekerjaan lain, pintu masuk pekerjaan lain tertutup rapat.

Kebanggaan seorang agen asuransi bukanlah pada saat dia dapat meraih premi, menjual polis, tetapi jika nasabahnya benar-benar dapat merasakan manfaat berasuransi, solusi finansial masa kini dan masa depan.

”Profesi ini menurut saya sangat mulia dan membanggakan. Kita bisa membuat orang giat menabung, memberikan harta yang tak ternilai saat dibutuhkan. Contohnya kalau terjadi klaim, itu kan sesuatu yang dibutuhkan, dan membahagiakan kami sebagai agen,” kata Yovita, agen yang sudah biasa menjual asuransi miliaran rupiah setahun.

1 comment:

Unknown said...

Thanks for your information..
Amazing and so helpful!

Visit : Tata Cara Pengajuan Klaim Asuransi